Happy Hello Kitty Kaoani

Tidak Diizinkan Klik Kanan Untuk Copy Paste !!!

Senin, 21 Januari 2019

Saran Kemenkes untuk Cegah Obesitas

Senin, 21 Januari 2019 18:53:22

Saran Kemenkes untuk Cegah Obesitas

Kasus penderita obesitas asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Titi Wati (37), menyedot perhatian banyak kalangan masyarakat.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, jumlah penderita obesitas memang terus meningkat, bahkan Indonesia menempati peringkat ke-10 dunia.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Kirana Pritasari menuturkan, perilaku makan dan aktivitas saling berkontribusi terhadap faktor risiko obesitas seseorang.

Ketika berat badan sudah terlanjur berlebih, seperti kasus Titi Wati yang mencapai berat badan 220kg, maka perlu ada berbagai intervensi yang dilakukan. "Tidak bisa hanya diberi nasihat diet. Bagaimana cara dietnya dan berapa lama," kata Kirana dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (18/1/2018).

Untuk itu, upaya pencegahan perlu dilakukan. Salah satunya mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Beberapa kegiatan yang dianjurkan di antaranya meningkatkan aktivitas fisik, peningkatan perilaku hidup sehat, pemeriksaan kesehatan berkala, dan lainnya.
"Minimal satu tahun sekali kita tahu kondisi kesehatan kita. Menimbang (berat badan) kan tidak susah, bisa hitung Indeks Massa Tubuh (IMT) kita jika obesitas maka harus mengurangi asupan," tuturnya.

Beberapa tahapan yang bisa dilakukan agar terhindar dari obesitas, di antaranya

1. Mengubah gaya hidup

Beberapa gaya hidup yang berpotensi meningkatkan faktor risiko obesitas antara lain kebiasaan merokok, konsumsi gula dan garam berlebih, kurangnya aktivitas fisik, serta kurang konsumsi sayur dan buah.

Namun, bukan berarti konsumsi gula, garam dan lemak dilarang sepenuhnya. Hal terpenting adalah mengkonsumsi seperlunya. Untuk gula dianjurkan tidak lebih dari empat sendok makan (50gram) perhari, garam maksimal 1 sendok teh (2gram) dan lemak maksimal 5 sendok makan (67gram).

"Tetap butuh asupan gula, garam, lemak namun tidak berlebihan," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes, Cut Putri Arianie. Untuk itu, masyarakat juga dianjurkan untuk semakin jeli melihat label gizi pada kemasan makanan sehingga bisa menakar asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh.

2. Mengukur kelayakan berat badan

Obesitas dapat dicegah. Untuk mengetahui apakah berat badan kita masih normal atau tidak, perlu dilakukan penghitungan indeks massa tubuh (IMT).
Penghitungan IMT bisa dilakukan melalui kalkulator online atau menggunakan rumus berat badan berbanding kuadrat tinggi badan. "IMT tidak boleh lebih dari angka 27," tuturnya.

Jika menghitung IMT dirasa terlalu rumit, kita bisa mengukur lingkar pinggang. Usahakan lingkar pinggang perempuan tidak melebihi 81cm dan laki-laki tidak lebih dari 90cm.

3. Meningkatkan aktivitas fisik

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes 2013 juga menyebutkan bahwa dua atau tiga orang Indonesia kurang melakukan aktivitas fisik.

Oleh karena itu, peningkatan aktivitas menjadi sangat penting untuk dilakukan. Pakar gizi dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Arum Atmawikarta menyebutkan, salah satu upaya mencegah obesitas, misalnya membiasakan masyarakat untuk aktivitas yang melibatkan otot motorik seperti berolahraga.

Olahraga di sini tak mesti berupa olahraga formal, seperti pergi ke pusat kebugaran atau mengikuti kelas-kelas lainnya. Setidaknya, otot motorik digerakan selama 30 menit per hari.

"Mau nyapu, main bola, membereskan tempat tidur, yang lainnya boleh. Yang penting gerak motorik kasar minimal 30 menit setiap hari," jelasnya.

Beberapa daerah di Jakarta menurutnya sudah bisa dijadikan contoh jalanan dengan trotoar yang nyaman bagi pejalan kaki.

Tempat-tempat terbuka hijau pun dinilai mampu menunjang peningkatan aktivitas fisik masyarakat.

"Mudah-mudahan (trotoar) di daerah-daerah lain juga bisa. Lalu bisa lewat kebiasan bersepeda, kebiasaan bergerak terus menerus," tuturnya.

*Sumber: kompas.com

Senin, 14 Januari 2019

Main Games Bukan Hadiah untuk Anak

Senin, 14 Januari 2019 18:42:53

Main Games Bukan Hadiah untuk Anak


Di era teknologi, tak jarang orangtua menghadiahkan screen time atau membolehkan bermain gawai sebagai hadiah ketika anak berperilaku baik.  Padahal, hadiah tersebut jutsru cenderung membuat anak makin ketagihan kepada gawainya.

Para ilmuwan di University of Guelph, Kanada menemukan, anak-anak dengan orang tuanya membagikan screen time sebagai hadiah atau mencabutnya karena hukuman, justru menghabiskan lebih banyak waktu dengan gawainya atau televisi, daripada anak-anak dengan orangtua yang tidak melakukan hal serupa.

"Ini mirip dengan bagaimana kita seharusnya tidak menggunakan makanan manis sebagai hadiah. Karena itu dapat meningkatkan daya tariknya kepada mereka," menurut Profesor Jess Haines.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Obesity ini menelusuri dampak pola pengasuhan terhadap jumlah waktu yang dihabiskan anak-anak di depan layar.

Penelitian ini melibatkan 62 anak-anak berusia antara 18 bulan dan lima tahun, serta 68 orang tua.

Sebagai bagian dari penelitian, orangtua ditanyai pertanyaan seperti bagaimana mereka memantau screen time anak-anak mereka, ketika anak-anak diizinkan screen time dan apakah orang tua juga menghabiskan waktu di depan layar ketika di sekitar anak.

Hasilnya menunjukkan, rata-rata anak menghabiskan hampir satu setengah jam di depan layar selama weekdays dan sedikit lebih dari dua jam sehari pada akhir pekan.

Di sisi lain, orangtua menghabiskan rata-rata dua jam sehari di depan layar selama seminggu dan hanya lebih dari dua setengah jam sehari pada akhir pekan. Ini menunjukkan, anak-anak mencontoh dari orangtuanya.

Studi ini menemukan, mayoritas orangtua menggunakan gawai sebagai cara untuk mengendalikan perilaku, terutama pada akhir pekan. 

Hal tersebut mengakibatkan anak-anak menghabiskan waktu rata-rata 20 menit lebih banyak pada akhir pekan di depan layar.

"Kami pikir jumlah waktu layar lebih tinggi pada akhir pekan karena anak-anak di rumah dan biasanya lebih banyak berinteraksi dengan orang tua mereka," ujar Haines.

Anak yang melihat orangtua bermain gawai di sekitarnya justru memiliki screen time lebih tinggi. Kemungkinan karena orangtua mengizinkan anak bermain gawai.

"Bagi orang tua dengan anak-anak lebih kecil, mereka dapat memiliki screen time ketika anaknya tidur. Namun, ketika anak lebih besar dan waktu tidurnya hanya malam hari, hal ini jadi sulit, sehingga memainkan gawai tetap dilakukan saat anak di sekitarnya," ujar Haines.

*Sumber: kompas.com

Selasa, 08 Januari 2019

Penghasilan Anjlok Bisa Picu Penyakit Jantung, Apa Sebabnya?

Rabu, 09 Januari 2019 08:45:30

Penghasilan Anjlok Bisa Picu Penyakit Jantung, Apa Sebabnya?

Masalah keuangan menjadi salah satu sumber kecemasan yang paling umum, serta bisa berdampak buruk terhadap kesehatan jantung. 

Hal ini tidak hanya terjadi pada orang berusia lanjut, namun juga mengancam mereka yang berusia muda.
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Circulation, para ilmuwan mengumpulkan data dari sekitar 4.000 orang selama 15 tahun.

Data itu merekam keadaan para responden mulai dari ketika mereka berusia 23-35 tahun.
Kepada para responden di awal fase penelitian, para ilmuwan menanyakan data penghasilan mereka.
Selanjutnya, pertanyaan serupa disampaikan sebanya empat kali pada sepanjang periode penelitian.
Selain itu, para ilmuwan juga menganalisa rekam medis penyakit jantung, dan kematian para partisipan.

Selama periode itu, para peneliti menemukan, mereka yang memiliki pendapatan yang berubah-ubah, -terutama yang lebih sering anjlok, cenderung memiliki risiko penyakit jantung dua kali lipat lebih tinggi.

Bahkan mereka memiliki risiko kematian dini dua kali lebih tinggi ketimbang kelompok lainnya yang memiliki pendapatan lebih stabil. Tamuan dalam penelitian ini dilansir di laman Time.
Kebanyakan partisipan yang memiliki pendapatan tidak stabil adalah mereka yang tidak memiliki pekerjaan, atau gajinya berkurang setelah berganti pekerjaan.

Para peneliti juga fokus kepada orang-orang yang kehilangan 25 persen atau lebih pendapatannya.
Dari sana didapatkan, baik volatilitas maupun pengurangan pendapatan sama-sama berdampak pada peningkatan risiko penyakit jantung.
Ragam risiko itu berupa serangan jantung, stroke, hingga gagal jantung, sama seperti risiko kematian dini.

Temuan efek tersebut tergolong mengejutkan bagi para ilmuwan.
"Kami berasumsi, penurunan pendapatan atau perubahan pendapatan yang tidak stabil mungkin berdampak buruk bagi kesehatan karena dianggap memicu stres."
"Tapi kami cukup kaget bahwa hal ini juga menyerang masyarakat usia muda," kata Tali Elfassy, asisten profesor epidemologi Department of Public Health Science di Unviersity of Miami. "Efeknya juga sangat kuat," sambung dia.

Selain itu, orang-orang yang mengalami lebih dari dua kali penurunan pendapatan selama periode studi memiliki risiko terkena penyakit jantung 2,5 kali lebih besar dan dua kali lebih berisiko mengalami kematian.

Probabilitas itu dibandingkan dengan mereka yang pendapatannya cenderung stabil.
Studi ini memang tidak dilakukan untuk mengeksplorasi lebih jauh keterkaitan perubahan pendapatan dan penyakit jantung.
Namun, riset sebelumnya mengungkap hubungan yang kuat antara stres dan penyebab penyakit jantung.

Stres bisa memicu obesitas. Obesitas sendiri merupakan salah satu faktor penyakit jantung, sama seperti tekanan darah tinggi.

Pendapatan rendah juga bisa memiliki peran independen. Berada dalam status sosioekonomi rendah juga terkait dengan kesehatan jantung yang buruk.
Sebab, orang-orang dengan pendapatan yang tidak stabil cenderung merokok, jarang olahraga, dan jarang berkonsultasi dengan dokter. Semua faktor ini bisa menyebabkan peningkatan risiko penyakit jantung.

Hasil penelitian juga menemukan, orang-orang dari segala usia harus lebih memerhatikan faktor non-medis, seperti pendapatan, ketika membicarakan soal kesehatan mereka.
"Bahkan, di antara masyarakat usia muda, pendapatan sangatlah penting. Perubahan pendapatan bisa menjadi hal yang besar."
"Kami sering berpikir masyarakat usia tua cenderung lebih rapuh terhadap kondisi ini, tapi ternyata populasi muda juga mengalami stres finansial ini," kata Elfassy.

Para dokter juga dianjurkan untuk menanyanyakan pasien mereka tentang hal-hal besar yang terjadi pada pasiennya yang diduga menjadi sumber stres. Salah satunya adalah faktor perubahan status ekonomi.
Sehingga, para dokter bisa memberikan konseling kesehatan mental atau memberikan afirmasi positif terhadap pasiennya.

Namun, karena pendapatan biasanya di luar kontrol pribadi, fokus pada stres yang dirasakan bisa
menjadi cara untuk meningkatkan kesehatan jantung.
Cobalah untuk melakukan olahraga rutin, atau membiasakan aktivitas jalan kaki yang terbukti bisa membantu menjaga kesehatan jantung.

Nah, jika merasa mengalami stres, kamu juga bisa mencari dukungan sosial untuk mengatasi stres yang disebabkan karena pendapatan yang fluktuatif

*Sumber: kompas.com

Jumat, 04 Januari 2019

5 Trik Meningkatkan Kesehatan Mental di Tahun Baru

Sabtu, 05 Januari 2019 07:34:01

5 Trik Meningkatkan Kesehatan Mental di Tahun Baru

Tahun baru 2019 telah dimulai. Berbagai resolusi tahun baru diucapkan. Tapi, selain bertekad berhenti merokok, mengurangi gula, dan target lainnya, penting pula untuk memikirkan kesehatan mental kita.

Dilansir dari laman Forbes, setidaknya ada lima hal yang bisa kita lakukan untuk menyehatkan mental dan pikiran. Jika mental sehat, kita tentu lebih sehat secara fisik dan lebih bahagia.

Apa saja yang bisa kita lakukan?

1. Baik pada diri sendiri Ilustrasi gembira

Jangan terlalu keras pada diri sendiri sehingga kamu lupa cara menikmati hidup. Kapanpun kamu merenung, fokuskan kembali perhatianmu kepada semua hal yang kamu punya, target yang sudah tercapai dan orang-orang tercinta yang mendukungmu.

Pahamilah bahwa kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran. Penelitian menunjukkan bahwa kritik diri secara terus menerus dan perfeksionisme bisa meningkatkan stres, menurunkan produktivitas serta memicu penyakit mental, seperti depresi dan gangguan makan.
Jadi, kuncinya adalah menerima diri sendiri serta menyusun target realistis dalam hidup. Kamu juga perlu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat. Kelilingilah dirimu dengan orang-orang yang menyebarkan pesan positif dan mendukungmu.

2. Meditasi

Tidak ada bukti ilmiah yang membantah manfaat meditasi. Selain menghilangkan stres, meditasi juga bisa membantu kita tetap fokus, meningkatkan mood, meningkatkan memori, dan membuat tidur lebih nyenyak.

Bahkan, meditasi dinilai membawa manfaat lebih besar daripada pergi berlibur.

Cobalah bermeditasi setidaknya 10 menit setiap pagi untuk mendapatkan manfaatnya.

Ada banyak tipe meditasi yang bisa dipilih. Mulai dari meditasi pikiran, meditasi berjalan dan meditasi transedental. Carilah informasi sebanyak-banyaknya sebelum mempraktikkan meditasi yang paling sesuai dengan dirimu.

3. Menyatukan diri dengan alam

Kamu bisa pergi hiking, jalan di tengah hutan, menghabiskan waktu di alam, atau melakukan hal lainnya untuk menyatukan dirimu dengan alam. Hal ini sangat bermanfaat bagi kesehatan mentalmu.

Selain itu, menyatukan diri dengan alam juga bisa mengurangi stres dan kecemasan, meningkatkan mood, meningkatkan kepercayaan diri, menstimulasi kreativitas, hingga meningkatkan kemampuan memori.
Penelitian menemukan, bahkan aktivitas seperti berkebun pun bisa memberi dampak relaksasi dan menurunkan level kortisol dalam tubuh.
4. Menyusun prioritas

Lakukan evaluasi terhadap prioritas hidup serta bagaimana kita menghabiskan waktu dan energi dengan bijaksana.

Pastikan prioritas tersebut sejalan dengan target hidupmu.

Mulailah dengan membuat daftar lima atau enam target yang ingin kamu capai tahun ini, baik target profesional maupun personal.
Kemudian, prioritaskan semua tugas-tugasmu dengan target tersebut di dalam pikiran. Hal ini akan membuatmu tetap termotivasi, fokus dan mendapatkan hasil dari target tersebut.

Jangan lupa mengatur batasan-batasan untuk menjaga agar kamu tidak terlalu berkomitmen terhadap banyak target. Berkomitmen untuk target yang terlalu banyak akan melelahkan mental dan juga kontraproduktif.

5. Tidur cukup

Evaluasi kembali pola tidurmu. Sebab, pola tidur dan kesehatan mental sangat berkaitan. Tidur cukup akan meningkatkan mood, ingatan, kewaspadaan, produktivitas, bahkan kreativitas.

Yayasan Tidur Nasional di Amerika Serikat merekomendasikan tidur selama 7-9 jam semalam untuk manfaat kesehatan yang optimal.
Kurang tidur dalam jangka panjang bisa menyebabkan masalah kesehatan, termasuk kecemasan, kelelahan mental, kenaikan berat badan, hingga peningkatan risiko penyakit jantung, depresi dan melemahkan sistem imun.

Jadi, cobalah tidur setidaknya tujuh jam dalam sehari. Selain itu, terapkan pola makan sehat dan berolahraga setidaknya 15 menit sehari.

*Sumber: kompas.com

Selasa, 25 Desember 2018

Tiga Cara Efektif Memberi Donasi Bagi Korban Bencana

Rabu, 26 Desember 2018 12:52:30

Tiga Cara Efektif Memberi Donasi Bagi Korban Bencana


Kejadian tsunami di Banten dan Lampung, Sabtu (22/12/2018) mengejutkan banyak pihak serta menelan banyak korban jiwa dan luka-luka.

Ketika bencana alam terjadi, banyak pihak tergerak untuk memberikan donasi.  Namun, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan agar donasi yang kita berikan efektif dan bermanfaat bagi para korban bencana.

Dikutip dari laman Psychology Today ada tiga cara yang bisa kita lakukan agar donasi kita bisa secara efektif membantu para korban. Hal ini didasari beberapa riset psikologi

1. Uang, waktu dan tenaga

Banyak dari kita yang mungkin ingin berdonasi barang dan pangan kepada korban bencana. Padahal, uang tunai sebetulnya dianggap lebih efektif.

Hal berikutnya setelah uang adalah waktu dan tenaga. Memberikan barang-barang adalah opsi berikutnya.

Aturan efektivitas terpenting ketika memberi donasi ke daerah terdampak bencana adalah jika bisa membayar, donasikanlah uang. Jika tidak bisa, donasikan waktu dengan menjadi sukarelawan untuk kegiatan produktif yang membantu penanganan daerah bencana.

Ada dua alasan mengapa mendonasikan barang untuk korban bencana tidak disarankan:

- Masalah kecocokan. Misalnya ketika ada banyak sumbangan pakaian pria tetapi daerah terdampak bencana tersebut justru membutuhkan baju anak, maka sumbangan kita menjadi tidak efektif. Alih-alih membantu, barang sumbangan tersebut bisa jadi justru menambah beban mereka yang bekerja membantu penanganan bencana tersebut.

- Masalah logistik. Pada bencana alam seperti gempa bumi atau tsunami, fasilitas distributor reguler bisa saja terganggu atau bahkan tak beroperasi. Padahal, kamu membutuhkannya untuk bisa disampaikan pada para korban. Hal ini bisa mengurangi nilai donasimu.

Meski mendonasikan uang menjadi bantuan yang sangat penting, namun kamu tak perlu memaksakan diri jika tidak mampu. Kamu bisa menyumbangkan waktu dan tenaga untuk ikut terjun membantu para korban di lapangan.

2. Jangan beri donasi sekaligus
Hal lainnya yang perlu diperhatikan agar donasi menjadi lebih efektif adalah dengan tidak memberikannya sekaligus, namun bertahap dalam periode yang cukup lama.

Idealnya, durasi donasi harus bisa bertahan selama masa pemulihan. Jika tidak, berikanlah bertahap dalam waktu selama mungkin.

Sebab, korban bencana butuh waktu lama untuk pulih. Ada beberapa kasus dimana donasi sudah diberikan di awal kemudian cadangannya menipis setelah beberapa minggu kemudian. Padahal, masa tersebut masih masuk masa pemulihan.

Untuk menghindarinya, tentukan berapa banyak uang yang mau kamu donasikan. Kemudian bagilah uang tersebut ke beberapa periode waktu, misalnya sebulan sekali. Berikanlah donasi itu setiap sebulan dalam jadwal yang teratur.

3. Hindari berdonasi secara impulsif

Hindari berdonasi secara impulsif kepada pihak-pihak atau organisasi yang tidak jelas. Misalnya, jika kamu melihatnya di media sosial atau lewat aplikasi chat.

Meskipun kamu tahu asal usul orang atau organisasi itu sekalipun, kamu juga harus memastikan bahwa donasi yang disampaikan lewat jalur tersebut bisa disalurkan dengan efektif dan efisien.

Jadi, pastikan terlebih dahulu latar belakang orang atau organisasi pengumpul donasi tersebut. Hal ini akan memastikan setiap rupiah yang kamu sumbangkan bermanfaat bagi mereka.



Sumber: https://lifestyle.kompas.com/read/2018/12/25/090000320/
tiga-cara-efektif-memberi-donasi-bagi-korban-bencana-

Selasa, 18 Desember 2018

Kepala Pusing Saat Berdiri Terlalu Cepat, Apa Sebabnya?

Selasa, 18 Desember 2018 19:34:52

Kepala Pusing Saat Berdiri Terlalu Cepat, Apa Sebabnya?

Siapa yang pernah mengalami perasaan kepala seperti berputar-putar sesaat  berdiri terlalu cepat dari duduk?

Ya, berdiri terlalu cepat memang membuat kepala terasa pening. Namun, kita tak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Nadia Sutton, seorang ahli jantung intervensi mengatakan, tingkat bahaya rasa pening di kepala tergantung penyebabnya.

Dan, pusing setelah berdiri terlalu cepat berhubungan dengaan tekanan darah.

"Ketika kita berdiri, gravitasi ikut bermain, dan darah cenderung menyatu di bagian bawah tubuh," kata Dr Sutton.

Jadi, ketika kita berdiri terlalu cepat, kadang-kadang hipotensi ortostatik terjadi.

Hipotensi ortostatik merupakan tekanan darah ke bagian atas tubuh, terutama kepala, menurun ketika kita berdiri. Ini menyebabkan pusing atau pening.

"Biasanya, pembuluh darah di bagian atas tubuh mengencangkan atau menyempit ketika kita berdiri, agar tekanan darah tetap stabil ketika kita berdiri," kata dia.

Jika tekanan darah kita rendah saat kita mulai berdiri, kata Dr Sutton, kita mungkin cenderung mengalami gejala pusing ketika berdiri. Sebab, sirkulasi yang buruk ke kepala.

Namun, Dr. Sutton mengatakan ini biasanya terjadi dalam jangka pendek.

"Setelah pembuluh darah menyesuaikan diri untuk berdiri, gejala pusing akan hilang," kata dia lagi.

Menurut dia, ada banyak hal yang dapat mempengaruhi tekanan darah, antara laiin dehidrasi, obat-obatan, kondisi jantung, dan masalah neurologis.

Nesochi Okeke-Igbokwe, dokter dan ahli kesehatan, menambahkan untuk beberapa orang, gejala ini bisa berkaitan dengan disfungsi baroreseptor.

"Refleks baroreseptor membantu mengatur perubahan mendadak pada tekanan darah."

"Kegagalan disfungsi baroreseptor dapat berkontribusi untuk masalah hipotensi ortostatik berulang," kata Dr. Okeke-Igbokwe.

Ia juga menyebut, beberapa orang umumnya lebih rentan mengalami gejala pusing ketika berdiri.

Jika ini terjadi pada kita, ingatkan diri  untuk meluangkan waktu dan duduk sebelum berdiri.

Cara ini membiarkan tubuh menyesuaikan diri dengan gravitasi. Jika ini hanya terjadi sesekali, kita tak perlu khawatir.

Namun, jika gejala ini berlanjut dan semakin memburuk, sebaiknya kita berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan akar penyebabnya.

Komplikasi hipotensi ortostatik yang sedang berlangsung dapat meningkatkan risiko pingsan dan jatuh berulang yang dapat menyebabkan patah tulang, terutama pada orang tua.

"Ini juga berpotensi pada risiko stroke, jika suplai darah ke otak sering terganggu," kata Dr. Okeke-Igbokwe.

*Sumber: kompas.com

Minggu, 16 Desember 2018

Marah Tak Selalu Negatif, Ini 4 Manfaat Positifnya

Minggu, 16 Desember 2018 18:56:03

Marah Tak Selalu Negatif, Ini 4 Manfaat Positifnya

Seringkali orang berpikir bahwa marah memberikan dampak buruk terhadap kesehatan dan menyebarkan hal negatif.

Padahal tidak selalu begitu. Pelampiasan emosi tersebut bisa menjadi sesuatu yang lebih bahkan memiliki dampak positif.

Penulis Charles Duhigg melalui situs The Atlantic menjelaskan bahwa marah bisa juga memberikan manfaat kesehatan.

Duhigg menghabiskan waktu setahun untuk mempelajari akar kemarahan umum warga Amerika, terutama pada iklim politik yang saat ini kerap berubah.

Menariknya, Duhigg menemukan bahwa dampak kemarahan tidak seburuk yang dibayangkan selama ini.

Kemarahan dicitrakan buruk karena sering dikaitkan dengan kekerasan, padahal keduanya tidak terkait secara langsung.

Nah, setidaknya ada empat dampak positif dari marah. Apa saja?

1. Marah membuat kita bicara lebih jelas

Banyak orang biasanya menyaring kata-kata yang akan dikomunikasikan dengan orang lain sehingga kata-kata tersebut tidak menyinggung. Akibatnya, maksud yang ingin disampaikan menjadi tidak jelas.

Namun, marah membuat seseorang melupakan itu dan mengatakan apa yang dirasakan dengan jujur.

Hal itu dikatakan oleh Ken Yeager, PhD, LISW yang juga Clinical Director dari Stress, Trauma and Resilience program di Ohio State University Wexner Medical Center.

"Seringkali orang sibuk memikirkan bagaimana bicara sopan, namun pada proses tersebut mereka kehilangan arti sebenarnya yang ingin disampaikan," kata Yeager.

2. Marah membuat seseorang mampu bernegosiasi

Secara mengejutkan, komunikasi seseorang ketika sedang marah justru tidak selalu menghasilkan sesuatu yang buruk.

Sebuah artikel Duhigg mengutip penemuan dari seorang profesor di Massachusetts at Amherst Psychology, James Averill. Averill telah mempelajari kemarahan dan responsnya sejak akhir 1970an.

Ia melakukan survei untuk mencari tahu seberapa sering seseorang marah dan menanyakan pengalaman yang membuat mereka marah.

Averill mengungkapkan bahwa orang-orang yang marah cenderung bisa memecahkan masalah dengan baik. Salah satu kasusnya adalah seorang remaja yang mendapatkan keleluasan jam malam lebih setelah marah pada orangtuanya.

"Pada kasus yang luas, kemarahan bisa membuat semua pihak menjadi mau mendengarkan, cenderung bicara jujur, serta lebih akomodatif terhadap komplain orang lain," tulis Duhigg.

Meski begitu, intensitas kemarahan penting pula untik diperhatikan.

Awal tahun ini, para peneliti dari Rice University menemukan bahwa orang-orang yang marah dengan intensitas moderat lebih mampu menegosiasikan keinginannya daripada mereka yang sangat marah atau hanya sedikit marah.

Para peneliti meyakini bahwa orang-orang yang marah dengan intensitas moderat lebih dipandang sebagai figur yang kuat. Sedangkan orang-orang yang mengekspresikan kemarahannya secara ekstrim dipandang tidak pantas.

3. Kemarahan memunculkan motivasi

Kemarahan bisa membuat seseorang termotivasi, baik memulai proyek baru atau membuat perubahan karena perasaan tersebut bak bahan bakar untuk motivasi.

Duhigg memandang fenomena ini pada politik Amerika. Ia percaya bahwa politisi sukses akan menang karena mereka memanfaatkan kemarahan orang lain dan menginspirasi mereka untuk memberikan suaranya.

Menurut laporan Duhigg, itulah mengapa Averill tidak pernah mengabaikan posisi Presiden Donald Trump sebagai kandidat yang tidak terlalu disukai.

Tidak ada yang membantah bahwa hasil pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 menyebabkan kemarahan.

Sesaat setelah pelantikan Trump, kemarahan Amerika membuat orang-orang protes dan turun ke jalan. Di seluruh dunia, lebih dari lima juta orang juga melancarkan protes untuk mengadvokasi hak perempuan pada Januari 2017.

Tapi tidak semua stimulasi kemarahan harus bersifat besar. Menurut Yeager, kemarahan bisa saja sekadar memicu kreativitas di tempat kerja dan membuat kita mampu membangun inisiatif atau kampanye tertentu.

"Jika kamu membiarkan kemarahanmu lepas, kamu memahami bahwa akan ada kemungkinan perubahan," kata Yeager.

"Banyak orang terjebak pada hal-hal yang biasa mereka lakukan. Seringkali tak ada kreativitas yang muncul pada kondisi tersebut."

4. Kemarahan bersifat melegakan

Pikirkan lah kapan terakhir kali kamu mengatakan dengan jujur kepada seseorang apa yang benar-benar kamu pikirkan. Hal itu terasa melegakan, bukan?

Averill menemukan bahwa orang-orang merasa lebih bahagia, optimis dan lega setelah lepas dalam sebuag argumen.

Meskipun kita kerap mengaitkan agresi dengan kemarahan, dua hal tersebut sebetulnya tidak seterkait seperti apa yang kita pikirkan.

Dacher Keltner, director of The Berkeley Social Interaction Lab mengatakan kepada The Atlantic bahwa faktanya, otak kita mengalami kemarahan dalam konteks positif.

"Ketika kita melihat otak dari orang-orang yang mengekspresikan kemarahannya, tampak otak tersebut sama seperti mereka yang mengalami kebahagiaan," kata Keltner.

Sebab, saat marah kita biasanya merasa memegang kontrol atau seperti mendapatkan kekuatan atas sesuatu.

Namun, sebelum melepaskan kemarahanmu pada kerabat sekitar, ingatlah bahwa intensitas marah yang baik adalah intensitas moderat.

Kamu sudah melebihi batas jika kemarahan adalah hal utama yang kamu pikirkan. Kemarahan yang memicu serangan pribadi, penghinaan, dan komentar merendahkan justru merupakan sesuatu yang destruktif.

"Itulah titik dimana kemarahanmu bisa berujung pada kekerasan," kata Yeager.

Yeager menambahkan, adu argumentasi adalah sesuatu yang sehat dan tak masalah jika kita sedikit "panas".

Manfaatkanlah perasaan itu untuk bisa menyelesaikan sesuatu dan kamu akan menjadi pribadi yang lebih baik dalam menghadapi rasa marah.

https://lifestyle.kompas.com/read/2018/12/14/095908920/
marah-tak-selalu-negatif-ini-4-manfaat-positifnya