Happy Hello Kitty Kaoani

Tidak Diizinkan Klik Kanan Untuk Copy Paste !!!

Rabu, 31 Oktober 2018

Punya Pacar Bisa Bikin Keuangan Berantakan?

Kamis, 01 November 2018 12:59:33

Punya Pacar Bisa Bikin Keuangan Berantakan?


Pengeluaran saat kencan memang bisa menguras kantong. Apalagi jika kita dan pasangan hobi nongkrong di coffee shop, ke bioskop, atau jalan ke mal. 

Survei dari GiftCards.com, pengecer kartu hadiah online yang berbasis di Amerika Serikat membuktikan, berpacaran sebenarnya tak selalu menghabiskan banyak uang yang seperti kita pikirkan.

Tim peneliti menyurvei lebih dari 1.000 pria dan wanita untuk mendapatkan gambaran biaya yang dikeluarkan selama menjalani hubungan asmara, serta berapa banyak jumlah uang yang mereka habiskan untuk momen-momen romantis khusus.

Juga dibandingkan pengeluaran mereka yang masih lajang, menjalani masa pacaran dan telah terikat dalam pernikahan.

Ternyata, para lajang justru mengeluarkan uang lebih banyak ketika sedang berusaha mendapatkan cinta sejati. Rata-rata lajang di AS menghabiskan 146 dolar atau hampir Rp 2,5 juta untuk melakukan pendekatan.

Sementara itu, mereka yang telah menjalani masa pacaran mengeluarkan uang sedikit lebih rendah, 139 dolar. Setelah menikah, anggaran untuk kencan berkurang lagi.

Hasil survei ini membuktikan orang-orang yang terlibat dalam komitmen justru memiliki pengeluaran lebih sedikit.

Namun, biaya yang dikeluarkan dalam satu kali kencan, justru paling banyak pada orang yang sudah menikah.

Temuan menarik lainnya, semakin banyak uang yang dikeluarkan untuk acara khusus, misalnya ulang tahun, liburan, atau hari jadi, semakin tinggi peluang kita dan sang kekasih untuk menikah.
Bagaimanapun juga, uang bukanlah penentu kebahagiaan dalam sebuah hubungan. Jadi, bukan berarti pasangan yang mengeluarkan sedikit uang untuk berkencan dan berlibur bersama tak akan berakhir bahagia.

Selama kita memiliki kondisi keuangan yang baik, tak ada salahnya memberi sesuatu untuk menunjukan kepada pasangan betapa kita mencintainya.

Jika kondisi keuangan tidak memungkinkan, jangan memaksakan diri mengeluarkan uang saat berkencan.
Banyak juga kegiatan menarik dan berkesan yang bisa kita lakukan bersama pasangan tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya. Misalnya mendatangi acara yang digelar komunitas hobi, nonton di rumah, atau jalan ke taman.

*Sumber: kompas.com

Waspada...Serangan Jantung Intai Usia Produktif!

Rabu, 31 Oktober 2018 18:37:20

Waspada...Serangan Jantung Intai Usia Produktif!

Anto belum genap berusia 40 tahun saat tiba-tiba mengeluh adanya rasa tidak enak di bagian dada. Nyeri dada itu semakin berat ketika sedang beraktivitas dan akhirnya Anto segera dilarikan ke rumah sakit. 

Ayah dua anak ini ternyata mengalami serangan jantung dan harus menjalani kateterisasi jantung. Semuda usia 40 tahun terkena serangan jantung dan harus kateterisasi?

Saat ini, banyak orang berpikir bahwa penyakit jantung identik dengan usia tua sehingga kebanyakan usia produktif merasa aman. Mereka pun cenderung tidak pernah memeriksakan jantung. Pola hidup yang tidak sehat juga tetap dijalankan kalangan generasi muda.

Prevalensi penyakit kardiovaskular cenderung meningkat dari tahun ke tahun. WHO (World Health Organization) memprediksi, penyakit kardiovaskular akan menyebabkan kematian lebih dari 23 juta jiwa per tahun pada 2030.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2013, penyakit jantung koroner sudah mencapai 12,1 persen dari populasi. Yang lebih mengejutkan, riset itu menyatakan 39 persen di antaranya merupakan kelompok berusia kurang dari 44 tahun, sedangkan 22 persen berasal dari kelompok usia 15 hingga 35 tahun.

Modernisasi yang terjadi secara perlahan namun pasti berdampak pada pergeseran kelompok usia penderita penyakit jantung dari usia senja ke usia produktif.

Berbagai kemudahan dan kenyamanan yang kita dapatkan dari teknologi yang kian maju justru membuat pola hidup menjadi tidak sehat.

Pekerja usia produktif cenderung memiliki waktu kerja yang panjang, bekerja di belakang meja (sedikit bergerak), tidak mengkonsumsi makanan yang sehat, dan tidak berolahraga.

Dokter Spesialis Jantung Siloam Hospitals Kebon Jeruk yang juga tergabung dalam Siloam Heart Institute, dr. Antono Sutandar, Sp.Jp-K mengatakan bahwa pola hidup yang tidak sehat dan stres memiliki peran cukup besar menyebabkan penyakit jantung pada usia muda.

Berdasarkan Interheart studi, terdapat 9 faktor risiko yang dapat meningkatnya penyakit jantung koroner (PJK), yaitu kolesterol tinggi, merokok, stres, diabetes, tekanan darah tinggi, abdominal obesitas (perut lebih besar daripada bokong), tidak mengkonsumsi alkohol sama sekali, tidak berolahraga, serta kurang mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan.

“Sejak Perang Dunia II, kita mengalami perubahan diet yang drastis untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan. Bahan pangan yang semula merupakan hasil pertanian sekarang bergeser menjadi hasil olahan industri seperti tepung terigu dan gula. Porsi makanan olahan di dalam kehidupan kita juga semakin meningkat. Perubahan pola inilah yang makin menyebabkan penyakit jantung bergeser ke usia yang lebih muda,” katanya kepada Kompas.com, Rabu (3/10/2018).

Menurut dr. Antono, PJK bisa dicegah dengan memperhatikan faktor-faktor risiko tersebut. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang tidak dapat kita ubah seperti faktor keturunan, usia, dan jenis kelamin.

Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat PJK atau mati mendadak sebelum usia 55 tahun memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit jantung.

“Di samping itu, semakin bertambahnya usia, risiko untuk terjadinya semua bentuk penyakit kardiovaskular akan meningkat pula. Dan hanya pada pria, risiko terkena PJK meningkat menjadi dua kali lipat. Orang-orang dengan faktor risiko seperti di atas sebaiknya melakukan skrining jantung lebih awal,” tambahnya.

Skrining jantung awal yang bisa dilakukan adalah dengan ECG stress test. Ini merupakan prosedur sederhana di mana pasien diminta melakukan treadmill sambil irama jantungnya direkam dengan ECG.

ECG stress test ini memiliki akurasi 60-70 persen untuk mengetahui adanya penyempitan pada pembuluh darah jantung. Jika didapatkan kelainan pada ECG stress test pasien akan diminta untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti stress echo, CT scan jantung, tes nuklir, atau kateterisasi.

dr. Antono menjelaskan bahwa perkembangan teknologi kesehatan dapat menurunkan angka mortalitas pasien yang masuk dengan serangan jantung. Namun, pencegahan atau diagnosa dini penyakit jantung merupakan lini pertama yang harus diperkuat.

Pil in the pocket

Bento dan Toni merupakan sahabat karib. Saat sedang memancing bersama, Bento mengeluhkan rasa tidak nyaman pada dada kirinya. Nyeri tersebut bisa ditunjuk dengan satu jari dan berkurang jika dia sedikit membungkuk.

Toni lalu memberikan cedocard kepada Bento. Ia mengatakan, pil dapat menghilangkan nyeri dada. Tak lama setelah meminum obat tersebut, Bento merasa pusing dan akhirnya pingsan.

Dari kisah tersebut, niat baik saja tidak cukup untuk membantu sesama, apalagi terkait nyeri di dada. Jika salah penanganan, bisa-bisa penderita justru mengalami kondisi lebih buruk.

Cedocard atau isosorbide dinitrat adalah obat yang bekerja untuk merelaksasi pembuluh darah jantung. Biasanya obat ini diletakkan di bawah lidah dan digunakan pada pasien dengan angina (nyeri dada karena penyempitan pembuluh darah jantung).
Sayangnya, pengetahuan masyarakat yang minim berakibat banyaknya kesalahan dalam pemberian obat ini.

“Delapan dari sepuluh orang dengan nyeri dada yang meminum cedocard ternyata bukan merupakan serangan jantung,” ujar dia.

Cedocard yang digunakan tanpa indikasi yang tepat dapat mengakibatkan penurunan tekanan darah yang drastis sehingga menyebabkan kondisi pingsan atau mau pingsan.

Pemberian 2 butir aspirin 100 miligram (mg) memberikan efek samping yang lebih sedikit daripada cedocard. Namun, pemberian obat tersebut hanya untuk orang yang tidak memiliki alergi terhadap aspirin.

dr. Antono menjelaskan, nyeri dada penyakit jantung memiliki karakteristik yang khas. Nyeri tersebut harus terjadi pada saat beraktivitas, peningkatan aktivitas, atau emosi tinggi.

Penyebabnya, jantung bekerja lebih keras saat beraktivitas dibandingkan saat beristirahat.

Nyeri dada yang terjadi saat beristirahat namun tidak terjadi saat beraktivitas atau emosi tinggi bukanlah ciri khas nyeri dada karena jantung.

Ciri khas berikutnya, nyeri dada khas jantung biasanya tidak bisa ditunjuk dengan 1 jari dan bukan nyeri di permukaan.

“Biasanya ada rasa tidak nyaman yang berasal dari dalam (belakang tulang dada) dan terasa seperti ditekan oleh balok kayu yang berat. Nyeri dada ini juga tidak dapat berkurang dengan perubahan posisi, menarik napas, ataupun asupan makanan.

Nyeri dada ini juga bisa disertai dengan penjalaran ke rahang, ulu hati, tangan kiri atau kanan, sampai ke punggung,” kata dr. Antono. Nyeri tersebut berlangsung minimal sampai 5 menit. Nyeri dada yang terjadi kurang dari 1 menit walaupun terjadi di dada sebelah kiri, bukan merupakan nyeri dada khas jantung.

“Jika Anda mengalami nyeri dada yang tidak hilang lebih dari 30 menit kemudian semakin berat dengan aktivitas, saya anjurkan Anda segera datang ke UGD terdekat,” ujarnya.

Tahapan Penyakit Jantung Koroner

dr. Antono Sutandar, Sp.JP-K yang juga menjabat sebagai Vice Chairman Siloam Heart Institute menjelaskan bahwa penyakit jantung koroner terdiri atas tiga fase.

Fase pertama merupakan fase penyempitan pembuluh darah jantung karena penumpukan kolesterol. Pada fase ini, pasien bisa ditangani dengan obat-obatan saja dan perubahan pola hidup untuk mengontrol faktor risiko yang ada. Namun, apabila penyempitan yang terjadi cukup parah maka dapat dilakukan pemasangan cincin ataupun bedah jantung (bypass) untuk mencegah terjadinya serangan jantung.

Fase kedua terjadi jika ada gumpalan darah yang menyumbat dan menyebabkan serangan jantung. Pada fase ini belum terjadi kerusakan otot jantung sehingga perlu dilakukan pemberian fibrinolitik atau primary angioplasty secepat mungkin untuk membuka pembuluh darah yang tersumbat untuk mencegah terjadinya kerusakan otot jantung.
Sementara itu, fase ketiga terjadi ketika serangan jantung sudah mengakibatkan kerusakan otot jantung. Pengobatan pada fase ini tergantung dari berapa besar dan lama kerusakan otot jantung yang terjadi. Penanganan bisa dilakukan dengan obat-obatan, angioplasty atau bedah jantung untuk membuka pembuluh darah dan menyelamatkan otot jantung yang masih dapat diselamatkan.

Jumlah operasi jantung di Indonesia kini sekira 4.000 kasus per tahun. Jumlah ini masih tergolong sangat sedikit dibandingkan dengan potensi kasus bedah jantung yang berjumlah lebih kurang 20.000 kasus per tahun.

Studi juga menerangkan bahwa sekira 2.000 pasien memilih untuk melakukan prosedur operasi di luar negeri. Hal ini menggambarkan ketidakpercayaan masyarakat Indonesia terhadap kualitas pelayanan jantung di Indonesia.

Berdasarkan situasi inilah, Siloam Heart Institute (SHI) didirikan oleh Siloam Hospitals Group yang berpusat di Siloam Hospitals Kebon Jeruk. SHI diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia. Dengan begitu, masyarakat bisa mendapatkan pelayanan jantung yang komprehensif dan lengkap yang sama baiknya walaupun berada di dalam negeri.

*Sumber: kompas.com

Rabu, 17 Oktober 2018

Konflik Bisa Bikin Hubungan dengan Kekasih Lebih Kuat

Rabu, 17 Oktober 2018 14:27:33

Konflik Bisa Bikin Hubungan dengan Kekasih Lebih Kuat

Tak sedikit orang yang menghindari konflik dan perdebatan dengan kekasihnya. Alih-alih mengutarakan hal yang mengganjal, banyak orang memilih untuk diam dan memendam isi hatinya. 
Banyak hal yang menjadi alasannya, padahal konflik dan perdebatan dalam sebuah hubungan sebetulnya adalah hal yang baik. Lho, kenapa ya?

"Di Indonesia, yang namanya debat dianggap masalah, sesuatu yang buruk, negatif, atau bikin hubungan hancur. Makanya kalau ada ketidakpuasan dikubur."
Hal itu diungkapkan Relationship Coach dan Pendiri KelasCinta.com, Lex de Praxis dalam seminar bertajuk "Relationship Blueprint" yang diselenggarakan di Grand Orchardz Kemayoran, Jakarta, Sabtu (13/10/2018).

Ia menambahkan, ketidakpuasan yang dikubur dalam hati, lama-kelamaan akan mengakar dan tumbuh, lalu ketika muncul ke permukaan akan lebih susah diperbaiki.
"Ketika cewek bilang: 'Kamu enggak bisa dibilangin!' itu berarti "pohonnya" sudah besar. Kadang cowoknya juga menganggap dirinya bisa mengatasi sendiri," tuturnya.

Lex menjelaskan, banyak laki-laki yang terkadang kurang peka, malas ribet, atau sibuk sehingga enggan memperdebatkan masalah kecil.
Sedangkan pihak perempuan, biasanya, malas bicara dan lebih memilih memendam hal yang ingin diutarakannya.

Ketika si perempuan tidak pernah bicara, pihak laki-laki merasa hubungannya tak ada masalah. Padahal, perempuan tersebut merasa pasangannya tidak peduli, tidak mendukungnya, atau memberi batasan.

Lex mencontohkan ketika seorang laki-laki dan perempuan sudah membina hubungan bertahun-tahun dan si perempuan sudah berekspektasi menikah di tahun tertentu. Perempuan itu berharap segera dinikahkan.

Namun, si laki-laki tak kunjung menunjukkan pergerakan sehingga si perempuan kesal dan terus mengomel. Menganggap pasangannya tidak peka. Padahal, ia sendiri tak pernah mengutarakan keinginannya secara jelas.

"Ini masalah kebanyakan orang Indonesia," kata dia.
Konflik memang tak terhindarkan dalam sebuah hubungan. Namun, ketika konflik itu muncul, salah satu pihak harus berani bicara. Di sisi lain, pihak lainnya juga harus bersedia mendengar.

Pertengkaran dalam hubungan adalah hal yang sehat. Hal yang tidak sehat adalah melibatkan emosi, seperti saling menuduh dan memaki. Ketika emosi sudah dilibatkan, jarang sekali ditemukan solusi.
"Padahal kalau si cewek bilang masalahnya dari hari awal, akan langsung dikoreksi. Banyak laki-laki memerlukan instruksi yang jelas. Misalnya, minta jemput dua kali seminggu, dan sebagainya. Tapi kalimat yang keluar: kamu enggak care, lebih peduli sama keluarga kamu. Lho, itu kan tuduhan," kata Lex.

"Ketika tuduhan keluar, masalah utamanya bisa enggak selesai. Akibatnya malah jadi bertengkar masalah lain."
Menurutnya, kunci mengatasi konflik dalam hubungan bukanlah menghilangkan atau mengubur konflik tersebut, melainkan membahasnya dan mencari penyelesaian.

Meski terdengar mudah, namun hal ini sulit dipraktikkan oleh banyak orang. Sehingga alasan "ketidakcocokan" sering menjadi alasan pasangan suami-istri yang bercerai.
Padahal, pasangan yang mampu mengelola konflik dalam hubungannya cenderung akan semakin kuat dan solid.

"Justru setelah kita berhasil menyelesaikan konflik, kita akan makin kuat. Ingat enggak ketika awal pacaran, lalu ada masalah dan berhasil menembus masalah itu? Setelah itu makin intim, makin cocok," ucap Lex.

"Makanya kalau ada masalah, tekan terus, jangan menjauh. Agar semakin lama semakin beradaptasi dan akhirnya 'klik'."

*Sumber: kompas.com

Senin, 15 Oktober 2018

Mengapa Menggaruk Daerah yang Gatal Rasanya Begitu Nikmat?

Senin, 15 Oktober 2018 15:15:20

Mengapa Menggaruk Daerah yang Gatal Rasanya Begitu Nikmat?
 
Satu dekade lalu, para ilmuwan masih berpikir bahwa gatal merupakan jenis lain dari rasa sakit, tapi dalam bentuk lebih ringan yang menggunakan reseptor serupa di epidermis untuk menyampaikan pesan kimia dan listrik ke tulang belakang dan ke otak untuk mengatakan sesuatu yang menyakitkan.

Namun, kita sekarang tahu bahwa gatal sebenarnya memiliki sirkuit spesifiknya sendiri, yang melibatkan senyawa kimia dan selnya sendiri.

Secara teknis, gatal atau yang dalam dunia medis dikenal sebagai pruritus merupakan sebuah reaksi alami untuk melindungi kulit dari parasit dan penumpukan sel-sel mati.

Sebagai lapisan paling luar dari tubuh, akan menjadi masuk akal ketika kulit secara biologis mengembangkan sistem pertahanan diri seperti menggaruk. Namun, sampai saat ini para ilmuwan masih belum sepenuhnya memahami bagaimana gatal dan garuk berubah menjadi sensasi kenikmatan yang unik.

Seperti dilansir dari Science Alert, Sabtu (13/10/2018), ternyata menggaruk daerah yang gatal membentuk sinyal rasa sakit tingkat rendah untuk masuk ke otak dan mengganti sinyal gatal berubah menjadi rasa lega pada kita. Itulah sebabnya mencubit atau menampar di tempat yang gatal, sensasinya juga sama seperti menggaruk.

Saat kita menggaruk bagian yang gatal, maka otak kita juga akan mengeluarkan hormon serotonin yang akan mengurangi rasa gatal. Namun, hormon ini berlaku hanya sementara.

Pasalnya, justru serotoninlah yang sebenarnya dapat mempermudah sinyal gatal untuk muncul kembali. Itulah mengapa kadang ketika kita menggaruk daerah yang gatal, rasa gatal tidak hilang begitu saja, tetapi muncul di sekitar wilayah yang sama atau di tempat lain.

Gatal juga bisa disebabkan oleh kerusakan pada saraf yang menyebabkan rasa gatal tak terkendali yang dikenal sebagai gangguan pruritus. Beberapa kasus gatal seperti ini dapat disebabkan oleh infeksi virus yang mempengaruhi sistem saraf. Ada juga kondisi gatal yang disebabkan alergi, seperti pruritus aquagenik setelah kontak dengan air.

Semua hal yang disebutkan di atas dapat membuat tubuh menjadi gatal tanpa sebab yang jelas dan tidak bisa selesai hanya dengan menggaruk. Dalam hal ini, tindakan medis, seperti pemberian anestesi, diperlukan.

Pada dasarnya, rasa gatal dan cara mengatasinya sudah diketahui manusia, bahkan sejak abad ke-13.

Contohnya dapat dilihat pada daun mentol yang digunakan untuk meredakan kulit gatal di China kuno dan kamper, bahan kimia dari pohon cemara yang secara historis digunakan untuk membuat bahan peledak, telah digunakan untuk kulit yang gatal sejak abad ke-13.

Perlu diingat, terkadang rasa gatal bukan cuma hal yang ada di permukaan kulit. Rasa gatal bisa terjadi akibat dari sesuatu yang tidak tepat jauh di dalam tubuh kita.

Sampai saat ini, para ilmuwan masih terus mencari tahu tentang respons gatal yang aneh dan unik sehingga di masa depan, kita mungkin akhirnya dapat mematikan rasa gatal yang tak terkendali untuk selamanya.

http://health.kompas.com/read/2018/10/13/210600623/
mengapa-menggaruk-daerah-yang-gatal-rasanya-begitu-nikmat-

Sabtu, 13 Oktober 2018

Misteri Tubuh Manusia, Kenapa Kotoran Telinga Bentuknya Berbeda-beda?

Sabtu, 13 Oktober 2018 18:00:59

Misteri Tubuh Manusia, Kenapa Kotoran Telinga Bentuknya Berbeda-beda?


Saat membersihkan telinga mungkin Anda mendapati kotoran berwarna gelap atau terang. Barangkali Anda bertanya-tanya kenapa warnanya bisa berbeda?

Dr Marlinda Adham Yudharto, Sp.THT-KL(K) berkata tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan warna-warna kotoran yang berbeda.

Warna kotoran telinga seperti kuning, oranye, cokelat, bahkan mendekati hitam adalah hal yang normal.

"Sebenarnya enggak ada masalah pada warna (kotoran telinga)," jelas Linda saat dihubungi Kompas.com, Kamis (11/10/2018).

Selain warna yang tidak perlu dikhawatirkan, Linda berkata bahwa telinga juga memiliki mekanisme untuk membuat kotoran telinga menjadi kering atau basah. Masing-masing individu memiliki jenis kotoran yang berbeda.

Khusus untuk orang yang memiliki kotoran basah, Linda menganjurkan agar rutin membersihkan ke dokter setiap enam bulan sekali.

Sebab, orang yang jenis kotoran telinganya basah, jika berusaha membersihkan sendiri justru akan membuat kotoran terdorong ke belakang hingga menutupi gendang telinga.

Faktor genetik dan pola migrasi

Namun, seperti dilansir BBC tahun 2016, jenis kotoran telinga basah atau kering sebenarnya juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Tepatnya, satu huruf dalam satu gen.

Gen yang dimaksud bernama ABCC11. Jika gen yang kita miliki adalah huruf A dan bukan G, maka kotoran telinga kita jenisnya kering.

Menurut artikel tersebut, kotoran telinga juga bisa digunakan untuk menelusuri pola migrasi manusia.

Mereka yang berasal dari keturunan Kaukasia atau Afrika cenderung memiliki tipe kotoran telinga basah, sementara orang Asia Timur lebih banyak yang memiliki kotoran telingan kering dan bersepih.

Dua jenis kotoran telinga ini lebih seimbang komposisinya di kalangan etnis Kepulauan Pasifik, Asia Tengah, Asia Kecil, dan suku asli Amerika serta Inuit.

Bagaimana membersihkan dengan benar?

Masalah yang paling sering dialami dan ditanyakan kebanyakan orang soal kotoran telinga adalah bagaimana cara membersihkannya.

Tak hanya saat ini saja, ternyata masalah ini sudah dirasakan sejak abad pertama Masehi. Dalam bukunya, De Medicina, Aulus Cornelius Celsus dari Romawi menyarankan serangkaian cara untuk menghilangkan kotoran telinga.

"Jika bentuknya serpihan (mungkin merujuk ke jenis kotoran telinga yang kering), tuangkan minyak panas, atau kerak hijau tembaga yang dicampur dengan madu atau jus daun bawang atau sedikit soda dalam anggur madu," katanya.

Saat kotoran mulai mengelupas, buku tersebut menyarankan untuk membilasnya dengan air.

"Tapi jika bentuknya zat lilin (mungkin merujuk ke jenis basah), pakailah cuka yang mengandung sedikit soda, dan ketika kotoran telinganya melunak, maka cuci telinga," tulisnya.

Dia juga mengingatkan agar telinga disuntik dengan castoreum —zat yang keluar dari berang-berang— dicampur dengan cuka dan minyak laurel dan sari kulit radish muda, atau dengan sari mentimum, dicampur daun mawar yang dihancurkan. Dengan meneteskan jus dari buah anggur yang belum masak dicampur minyak bunga mawar juga bisa melawan ketulian.

Jika dicermati, maka resep ini hanya kedengaran sedikit lebih mudah daripada menggunakan mata salamander sebagai bahan pengobatan, namun sampai sekarang pun dokter masih menggunakan minyak zaitun atau badam untuk melunakkan kotoran telinga sebelum diangkat.

Penyakit karena kotoran telinga

Pada kenyataannya, beberapa orang menderita masalah terkait kotoran telinga yang serius sampai butuh perawatan.

Berdasarkan analisis 2004, ada sekitar 2,3 juta orang di Inggris yang setiap tahun harus ke dokter untuk mengatasi masalah tersebut, dan sekitar empat juta telinga dirawat setiap tahunnya.

Lansia, anak-anak, dan mereka dengan kesulitan belajar sering mengalami masalah akibat dari gangguan kotoran telinga.

Efeknya bisa berakibat pada kehilangan pendengaran, tentu saja, tapi juga menarik diri dari kehidupan sosial dan bahkan paranoia ringan.

Para ahli mengatakan, beberapa pasien mengalami masalah gendang telinga gara-gara kotoran.

Sampai sekarang, praktisi kesehatan masih menggunakan minyak zaitun atau minyak badam untuk melunakkan kotoran telinga.

Serum tersebut tidak akan membuat gendang telinga rusak. Artinya, mereka yang mengalami masalah pada gendang telinga besar kemungkinan disebabkan oleh diri sendiri, salah satunya dengan menggunakan cotton bud.

Dalam penggunaan cotton bud, Linda mengingatkan agar kita tidak menggunakannya setiap hari. "Jangan setiap hari, karena telinga punya mekanisme pembersihan sendiri," kata Linda.

Pada 2012, peneliti University of Minnesota Medical School, Anjali Vaidya dan Diane J Madlon-Kay menyimpulkan bahwa tak ada satu pun metode pembersihan yang terbukti paling baik, paling aman, atau paling efektif dibanding yang lain. Pembersihan yang dimaksud adalah mengguanakan pelembut kotoran telinga, pembasahan, atau metode pembersihan lain.

Prosedur ini lebih baik ditangani oleh yang ahli.

Risiko pembersihan telinga

Terlepas dari risikonya, beberapa orang tetap saja menggunakan cotton bud setelah mandi.

Menggosok-gosok telinga menggunakan pembersih berisiko membolongi gendang telinga, atau malah mendorong kotoran telinga masuk lebih dalam.

Kadang-kadang kapas di ujung pembersih bisa lepas, dan berada dalam saluran telinga.

Selain itu, pengobatan alternatif ear candle juga memiliki faktor risiko.

Dalam praktik ini, lilin bolong yang terbuat dari lilin lebah atau parafin ditaruh dekat telinga lalu dibakar.

Idenya, panas di dalam lilin yang bolong tersebut akan menarik kotoran telinga keluar dari saluran telinga, sehingga mudah dibersihkan.

Tak ada bukti yang mendukung praktik ini, dan banyak bukti yang membenarkan bahwa membakar lilin panas di dekat telinga akan membuat sakit dan lebih baik dihindari.

Sumber: http://health.kompas.com/read/2018/10/12/133607723/
misteri-tubuh-manusia-kenapa-kotoran-telinga-bentuknya-berbeda-beda

Senin, 08 Oktober 2018

5 Fakta Mengejutkan tentang Air Garam dan Fungsinya bagi Kita

Selasa, 09 Oktober 2018 12:16:47

5 Fakta Mengejutkan tentang Air Garam dan Fungsinya bagi Kita


Lidah Anda adalah sebuah detektor garam—melarutkan kristal garam padat yang ditaburkan di keripik Anda untuk menciptakan sensasi rasa yang kuat.

Tapi garam jauh lebih penting dari sekadar bahan tambahan makanan.

Air asin secara literal zat yang begitu banyak di permukaan Bumi dan zat ini sungguh penting untuk kehidupan dan planet ini.

Ini lima hal yang akan mengejutkan Anda tentang air asin biasa.

Air asin membawa sinyal listrik yang memungkinkan kehidupan.

Air asin dibuat ketika sebuah garam padat, seperti garam tablet (sodium klorida), ditambahkan ke air dan memecahkan diri menjadi pecahan partikel yang bergerak bebas yang disebut ion-ion. Ada banyak jenis air asin, tergantung pada jenis ion yang ada.

Ion-ion bertindak seperti sebuah balon yang digosokkan ke rambut Anda. Mereka membawa muatan listrik dan memungkinkan air asin mengantarkan listrik.

Tubuh Anda menggunakan air asin untuk mengirim sinyal listrik yang membuat jantung Anda berdetak dan otak Anda berpikir. Untuk melakukan hal ini, tubuh memiliki molekul-molekul khusus yang disebut pompa-pompa ion yang bergerak di sekitar ion. Banyak penyakit timbul saat pompa-pompa ion tidak berfungsi.

Pompa ini juga penting saat ion-ion membawa sinyal-sinyal ini. Misalnya, mengganti sodium dengan kerabat unsur terdekatnya pada tabel periodik memberikan juga pengobatan untuk penyakit bipolar dalam kasus litium atau bahan suntik yang mematikan dalam kasus potasium.

Air asin bertindak sebagai ban berjalan untuk membawa panas ke seluruh planet ini

Seperti yang dibuat terkenal oleh film The Day After Tomorrow, Eropa dan Amerika Utara tetap hangat karena pengaruh Gulf Stream, arus besar air hangat mengalir ke utara dari daerah tropis.

Hal ini saat ini didorong oleh perubahan rasa asin air laut. Saat es di kutub membeku pada musim dingin, air laut di sekitarnya menjadi lebih asin. Air asin lebih berat sehingga tenggelam ke dasar laut, mengaduk samudra, dan menggerakkan arus ini.

Ketika perubahan iklim mencairkan puncak es, arus ini mungkin terganggu. Ini akan mengganggu aliran panas dan nutrisi di seluruh dunia dengan cara yang rumit.

Air asin dapat digunakan untuk menghisap karbon dioksida dari udara

Untuk mencegah efek terburuk dari perubahan iklim, kita perlu mengekstrak karbon dioksida  dari udara dan menyimpannya dalam sebuah skala besar. Lautan saat ini siap melakukan hal ini, memindahkan lebih dari seperempat dari total karbon dioksida yang dimasukkan manusia ke udara.

karbon dioksida bereaksi dengan air untuk membentuk ion-ion yang meningkatkan keasaman lautan—ini adalah sebuah masalah besar bagi hewan-hewan yang hidup di dalam laut.

Tapi kita dapat menggunakan efek ini untuk keuntungan kita. Secara sengaja mengekspose volume besar air ke air berisi ion-ion potasium (serupa dengan air asin) dapat secara efektif menangkap karbon dioksida dengan sangat hemat biaya. Hal ini dapat dilakukan di mana pun tempat energi murah dan ada tempat untuk menyimpan karbon dioksida.

Membuat baterai yang menggunakan air garam dapat memecahkan masalah penyimpanan energi

Turbin angin dan panel surya sangat efektif dalam menangkap energi, tapi untuk mengatasi perubahan iklim kita perlu cara baru dan lebih murah untuk menyimpan energi.

Baterai ion litium, teknologi yang paling umum digunakan, menggunakan ion-ion litium yang dilarutkan dalam cairan untuk membawa listrik bolak-balik antara terminal positif dan negatif dari baterai. Cairan yang saat ini digunakan mahal, memperlambat pengisian baterai, dan dapat terbakar.

Mengganti cairan ini dengan air garam adalah sebuah kunci utama dari riset baterai dengan mengharapkan benefit pada biaya murah dan aman. Tipe-tipe baterai ini juga lebih mudah memproduksinya, penting untuk menjawab meningkatnya permintaan baterai.

Tapi kita tetap tidak bisa memprediksi bahkan sifat air asin yang paling sederhana sekalipun

Selama abad yang lalu pentingnya memahami air asin telah diakui—beberapa pikiran pemenang Nobel yang terbaik bidang sains telah bekerja untuk masalah ini.

Kami masih membuat kemajuan menarik pada pertanyaan ini hari ini, sebagian dengan menggunakan superkomputer dan mekanika kuantum yang kuat untuk mensimulasikan bagaimana air garam berperilaku.

Sayangnya, kemampuan kita untuk memprediksi sifat air asin masih perlu jalan panjang. Misalnya, air yang sangat asin dapat membuat larutan jenuh yang dapat digunakan untuk membuat penghangat tangan.

Jika jenis larutan ini dibiarkan cukup lama maka secara spontan akan membentuk garam padat, tapi prediksi teoritis kami untuk berapa lama ini akan terjadi lebih dari seperempat juta kali terlalu cepat. Besarnya kesalahan perhitungan ini memberi tahu kita kita kehilangan sesuatu yang vital!

Studi tentang air garam sederhana adalah studi kurang menarik dibandingkan dengan ilmu yang lebih menarik tentang lubang hitam atau menyembuhkan kanker. Tetapi ini tidak berarti bahwa riset air asin kurang penting.

Sebenarnya, memahami air asin sangat penting untuk memahami tubuh kita sendiri dan planet kita sendiri. Itu bahkan bisa menjadi kunci untuk menyelamatkan mereka.

*Postdoctoral Research Fellow in Energy Storage , The University of Queensland

Tulisan pertama kali diterbitkan oleh The Conversation.


Sumber: http://health.kompas.com/read/2018/10/08/084708123/
5-fakta-mengejutkan-tentang-air-garam-dan-fungsinya-bagi-kita

Berhenti Makan “Junk Food” Bisa Sebabkan Gejala Mirip Putus Obat

Senin, 08 Oktober 2018 19:02:33

Berhenti Makan “Junk Food” Bisa Sebabkan Gejala Mirip Putus Obat

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Appetite mengungkapkan bahwa upaya untuk berhenti makan junk food bisa menyebabkan gejala mirip gejala putus obat.


Gejala ini meliputi perubahan mood yang tiba-tiba, rasa gelisah, sakit kepala, dan kesulitan tidur seperti yang dialami oleh orang-orang yang berusaha menghentikan kencanduan merokok atau narkoba mereka.

Laporan dari 200 partisipan juga mengungkapkan bahwa gejala ini paling terasa pada hari kedua dan hari ketiga sejak mereka berhenti makan junk food. Jangka waktu ini ditemukan paralel dengan orang-orang yang mengalami gejala putus obat pada umumnya.

Temuan ini, ujar penulis utama studi dan kandidat doktoral psikologi di Universitas Michigan Erica Schulte, merupakan bukti pertama bahwa gejala putus obat juga bisa terjadi ketika orang berusaha untuk mengurangi makanan yang diproses.

Schulte pun menambahkan bahwa gejala putus obat merupakan fitur utama dari kecanduan sehingga temuan ini bisa dibilang mendukung hipotesis bahwa makanan yang banyak diproses memang bersifat adiktif.

Melalui studi ini, Schulte berharap agar dia bisa meningkatkan kesadaran bahwa seseorang mungkin bisa mengalami sakit kepala dan menjadi mudah marah ketika mencoba mengurangi junk food. Dengan demikian, para pakar sebaiknya membantu individu-invidiu ini untuk menyusun strategi yang dapat mengurangi gejala mirip putus obat ini.

Ke depannya, dia pun ingin menguji efek gejala putus obat pada orang-orang yang mengurangi konsumsi junk food secara real time, bukan sekadar meminta partisipan untuk mengingat kembali pengalaman mereka.

Dia juga berharap untuk dapat membandingkan intensitas gejala yang dialami oleh partisipan dibanding gejala putus obat pada mereka yang kecanduan narkoba.



Sumber: http://health.kompas.com/read/2018/10/06/180500523/
berhenti-makan-junk-food-bisa-sebabkan-gejala-mirip-putus-obat