Happy Hello Kitty Kaoani

Tidak Diizinkan Klik Kanan Untuk Copy Paste !!!

Kamis, 04 Oktober 2018

Perhatikan, Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Bertemu Mantan...

Kamis, 04 Oktober 2018 19:03:12

Perhatikan, Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Bertemu Mantan... 

Berpisah dari orang tersayang memang bukan hal yang mudah. Apalagi, jika kita terpaksa masih harus berkomunikasi atau melihatnya dalam rutinitas sehari-hari.

Semua hal ini tentu membuat kita lebih susah bangkit dan move on dari rasa sakit akibat patah hati.

Melihat wajah dan harus berinteraksi dengan seorang yang ingin kita lupakan, tentu sangat menyakitkan, bukan?

Berpisah dari seseorang yang harus kita temui setiap hari, entah karena pekerjaan, jarak rumah yang dekat, atau karena adanya seorang anak memang sangat sulit.

"Terus-menerus melihat atau berinteraksi dengan seseorang yang ingin kita lupakan tentu akan menyulitkan kita untuk bangkit dari patah hati."
Demikian kata seorang pakar hubungan bernama Susan Winter, seperti dikutip laman Elite Daily.

Menurut dia, terjebak dalam kondisi di mana kita harus berinteraksi atau bertemu dengan mantan kekasih secara intensif membutuhkan mental yang luar biasa.
Juga diperlukan "sistem pendukung" yang hebat, dan keyakinan tinggi untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik.

Tak peduli bagaimana hubungan asmara berakhir, Winter menekankan pentingnya menjaga jarak antara kita dan mantan kekasih.

"Jika memungkinkan, sebaiknya hindari melihat mantan sampai kita mendapatkan stabilitas emosi," papar Winter.

Tentu ini hal yang sulit dilakukan, terutama jika mantan kekasih adalah rekan kerja atau tetangga kita.

Winter lantas menyarankan kita untuk benar-benar mempersiapkan diri sebelum terjebak dalam kondisi ini.

Ia juga menyarankan kita untuk tak melakukan hal-hal yang memancing interaksi dan percakapan.

Kita harus berlatih di hadapan cermin untuk mempersiapkan reaksi saat berada di sekitar mantan.
"Tentu kedengarannya konyol, tetapi cara ini sangat membantu," kata dia.

Kita akan terbiasa mengucapkan nama mereka dengan keras, dan dapat melatih topik percakapan ringan dan mudah, yang tidak akan menyinggung hal-hal seputar perpisahan.

Selain itu, Winter juga menyarankan kita agar mencari tahu apa yang kita perlukan untuk merasa kuat dan aman.

Jika itu berarti kita membutuhkan pakaian atau gaya rambut baru, maka lakukanlah.

Bahkan, jika memberi tahu mantan kekasih bahwa diri kita telah move on dapat memberi kekuatan, maka beri tahu dia.

Lakukan apa yang harus kita lakukan untuk percaya diri saat melihat mantan kekasih.

"Kita harus mengantisipasi hal tak terduga, dan melatih mental kita untuk menghadapi segala kondisi," ucap Winter.

Sekali lagi, berlatih di cermin bukanlah ide terburuk, dan mungkin ketika tiba saatnya untuk melihat mantan, kita akan siap, dan tak perlu merasa gelisah.

Jadi, praktikkan apa yang akan kita katakan dan persiapkan untuk hal terburuk.

Ini akan membantu menenangkan saraf sebelum menghadapi hal yang tak terelakkan, dan membantu kita tetap tenang ketika melihat mantan kekasih.

*Sumber: kompas.com

Selasa, 02 Oktober 2018

Yuk, Ajak 'Si Digital Native' Main Bebas di Alam Terbuka

Rabu, 03 Oktober 2018 10:51:00

Yuk, Ajak 'Si Digital Native' Main Bebas di Alam Terbuka 

Di era digital ini, bukan hanya orangtua yang piawai menggunakan layar komputer atau ponsel, anak-anak pun sudah akrab dengan fungsi dari perangkat teknologi. Generasi yang lahir sejak perkembangan teknologi ini disebut juga dengan digital native.

Walau kita tidak mungkin mengisolasi anak dari kemajuan teknologi, namun sebagai orangtua kita wajib memberikan pengawasan dan pembatasan.

Menurut dr. Buti A.Azhali, Sp.A, kemajuan teknologi telah memengaruhi anak, mulai dari cara bermain, gaya belajar, hingga interaksi sosial.

Jika penggunaan gawai pada anak tidak dibatasi, bisa berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mentalnya.

"Gangguan fisik pada anak pun dapat terjadi. Misalnya pola tidur berubah, gangguan penglihatan, obesitas, bahkan berpnegaruh pada tumbuh kembangnya," katanya dalam seminar "Membesarkan Anak Zaman Now: Gadget vs Engklek" yang diadakan oleh Podomoro Park, di Bandung (30/9).

Pada bayi, penggunaan gawai berlebihan bisa menyebabkan keterlambatan bicara (speech delay).

"Pemakaian gawai dapat menghilangkan puluhan bahkan ratusan kosakata baru yang dapat anak pelajari," kata Buti.

Ia menambahkan, berbeda ketika anak diajak bicara oleh orangtua.

"Anak yang sering diajak bicara oleh orangtua memiliki kemampuan mengolah kata yang lebih baik dan skill verbal juga tinggi," katanya.

Main di luar

Anak-anak seharusnya diajak untuk banyak bermain dan mengeksplorasi lingkungan sekitar.

Sayangnya, anak-anak dan remaja saat ini lebih suka mengunduh aneka film, lagu, dan permaianan dari gawai, ketimbang bermain di luar.

Permainan yang mengajak tubuh bergerak akan mengasah kekuatan fisik, keseimbangan, dan kontrol tubuh.

Menurut ahli psikologi anak Seto Mulyadi, bermain dengan teman sebaya di sekitar juga akan melatih kemampuan anak bersosialiasi sehingga anak akan mudah menyesuaikan diri saat dewasa.

"Berinteraksi dengan teman sebaya juga dapat melatih interpersonal skill," katanya dalam acara yang sama.

Namun, kendala lahan di luar ruangan yang dapat digunakan untuk bermain sering menjadi hambatan tersendiri.

Berbeda dengan kondisi lingkungan dahulu di era 80-90an, sat di sekitar rumah masih banyak area terbuka untuk anak bisa bermain dengan teman-temannya.

Untuk itu saat ini perumahan yang memiliki area terbuka luas menjadi idaman para orangtua muda.

Menurut Assitant GM Marketing Podomoro Park, Tedi Guswana, huian dengan konsep ruang terbuka luas dan juga aman kini menarik antusiasme pasar.

Saat ini Podomoro Park Bandung menghadirkan ruang terbuka hijau dengan komposisi mencapai 50 persen dari luas kawasan.

"Kami ingin mewujudkan hunian yang nyaman, aman, dan lingkungan yang sehat, terutama bagi anak-anak," katanya dalam acara tersebut.

Pada kesempatan yang sama, diluncurkan juga buku cerita anak berjudul "Moro Beruang Kecil dan Rumah Barunya", untuk mendukung budaya membaca melalui buku berbentuk fisik.

*Sumber: kompas.com

Senin, 01 Oktober 2018

Kenali Perbedaan Nyeri Otot dan Cedera Usai Olahraga

Senin, 01 October 2018 18:44:38

Kenali Perbedaan Nyeri Otot dan Cedera Usai Olahraga 

Nyeri otot merupakan bagian alami dari setiap olahraga rutin. Tandanya, otot telah bekerja dan Anda mendapatkan “hasil” dari sesi olahraga.

Walau begitu, nyeri otot dan cedera olahraga kadang tak tampak perbedaanya. Padahal, cedera jauh lebih serius dan mungkin memerlukan perhatian dan perawatan dari seorang dokter. Sehingga, mengetahui perbedaan antara keduanya adalah penting untuk mempertahankan gaya hidup sehat dan aktif untuk jangka panjang.

Menurut Mike Reinold, kepala ahli terapi fisik untuk Boston Red Sox, "Nyeri otot pasca olahraga dapat terjadi di bagian tubuh mana pun. Bisa dimulai dari saat olahraga hingga beberapa hari setelahnya, tergantung pada intensitas latihan, dengan puncak nyeri sekitar 36 jam pasca olahraga.”

Namun, setelah beberapa hari, rasa sakit akibat nyeri otot akan berkurang secara dramatis. "Jika nyeri Anda memuncak satu atau dua hari setelah olahraga, namun secara bertahap mulai menurun di hari berikutnya, otot dalam keadaan sehat.”

Untuk membantu meringankan rasa sakit dan mengurangi efek samping dari latihan berat, tetaplah bergerak aktif dan melakukan beberapa peregangan ringan selama 24 jam setelah sesi olahraga. Gerakan ini akan membantu untuk mengedarkan darah dan nutrisi ke jaringan yang rusak.

Namun, ketika rasa sakit terus berlanjut untuk jangka waktu yang lebih lama dan menyebabkan sangat sulit atau sakit bergerak, Anda mungkin telah mengalami cedera otot.

Dr. Reinold menambahkan, "Jika nyeri yang berlangsung lebih lama dari 5 hari, atau memiliki dampak signifikan pada fungsi anggota tubuh, itu mungkin cedera. Anda perlu cepat memeriksakan diri ke profesional medis.”

Penanganan cedera dini dapat menjadi kunci pemulihan cepat. Ketimbang menunggu rasa sakit reda dalam waktu lebih dari seminggu, segera kunjungi dokter atau ahli terapi fisik untuk memastikan bahwa Anda tidak mengalami sesuatu yang lebih serius.

Sumber: http://health.kompas.com/read/2016/08/16/203700923/
Kenali.Perbedaan.Nyeri.Otot.dan.Cedera.Usai.Olahraga


Rabu, 26 September 2018

75 Persen dari 2.000 Orang Naik Berat Badan Saat Pacaran

Rabu, 26 September 2018 20:02:30


75 Persen dari 2.000 Orang Naik Berat Badan Saat Pacaran

Saat bersama pasangan, kita biasanya merasa bahagia. Saking bahagia bukan kepalang, kita pun bisa lupa dengan berat badan dan tiba-tiba mengalami kenaikan. Survei OnePoll untuk Jenny Craig menemukan, tiga perempat orang dari 2.000 responden menngalami kenaikan berat badan setelah menemukan cinta. Dalam survei itu terungkap, rata-rata orang mengalami kenaikan 16 kg sejak bertemu dengan pasangan, dan 7,7 kg dari jumlah tersebut datang di tahun pertama kencan. 
Lantas, apa yang menyebabkan kenaikan berat badan tersebut? Hasil survei meneyebutkan, 64 persen responden mengaku tak lagi merasa tertekan untuk mencari pasangan. Kemudian 41 persen lainnya mengaku memiliki jadwal makan teratur saat berkencan.
Sementara itu, 34 persen responden mengaku tidak berpikir mengontrol asupan makanan ketika berpacaran. Baca juga: Bahaya Kenaikan Berat Badan Berlebih pada Ibu Hamil Ini bukan studi pertama kalinya yang menunjukkan hasil serupa.
Awal tahun ini, para peneliti dari University of Queensland menemukan, mereka yang memiliki pasangan memiliki indeks massa tubuh (BMI) lebih tinggi daripada mereka yang lajang. Orang-orang dalam hubungan biasanya menghabiskan lebih banyak waktu untuk makan bersama hingga menonton TV.
Meskipun banyak pasangan makan makanan sehat, porsi mereka cenderung lebih besar. Kendati demikian, memiliki pasangan bukan tak bisa hidup sehat dan terjerembap dengan anggapan tersebut.
Kalian bisa komitmen untuk olahraga bersama. Sebab, para peneliti di Santa Clara University menemukan, berolahraga bersama pasangan membuat orang merasa lebih bertenaga dan bahagia daripada sendirian.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""75 Persen dari 2.000 Orang Naik Berat Badan Saat Pacaran..." ", https://lifestyle.kompas.com/read/2018/09/25/105301320/75-persen-dari-2000-orang-naik-berat-badan-saat-pacaran.

Jumat, 14 September 2018

Susu Segar Lebih Baik dari Jenis Susu Lain, Simak Alasannya

Sabtu, 15 September 2018 11:15:22

Susu Segar Lebih Baik dari Jenis Susu Lain, Simak Alasannya

Slogan empat sehat lima sempurna sudah sangat sering kita dengar.

Meski sudah melekat di ingatan masyarakat, namun belum semua orang menerapkan pola makan tersebut. Termasuk melengkapi nutrisi dengan konsumsi susu.

Padahal, susu kaya akan sumber nutrisi yang seimbang dan sangat baik untuk dikonsumsi.

"Susu sangat sehat karena mengandung banyak protein, vitamin, dan mineral. Kandungan di dalam susu segar dan itu bisa membuat anak tumbuh besar dan pintar."

Hal itu diungkapkan Ilmuwan gizi, Dr. Matthew Lantz Blaylock, PhD dalam peluncuran susu UHT Greenfields ukuran kecil di KidZania, Pacific Place, Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Namun, dari semua jenis susu, susu segar (fresh milk) menurut dia adalah yang terbaik. Susu segar kemudian diolah menjadi beberapa proses dan menghasilkan susu jenis lain.

Produk terbaik, kata Matthew, adalah produk yang masih segar tanpa melalui proses apa pun.

Namun, susu harus tetap melalui proses pasteurisasi untuk membunuh semua kuman dalam susu, sehingga aman diminum.

Di antara semua susu, susu segar adalah jenis yang paling minim proses.
"Pilih kualitas yang terbaik, yang terbaik berasal dari makanan yang segar dan belum diproses."

"Ada nutrient value-nya. Kalau bisa langsung cabut dari tanah, petik dari pohonnya," kata pengajar di Universitas Ciputra, Surabaya itu.

"Sama seperti susu. Jika ada pengawet, stabilizer, itu kurang bagus."
Demi manfaat kesehatan maksimal, Matthew menyarankan untuk memprioritaskan susu segar ketimbang susu jenis lain. Misalnya, susu bubuk.

Susu bubuk sudah melalui banyak pengolahan sehingga kualitas asli susu hilang.

Selain itu, susu bubuk seringkali sudah ditambahkan dengan bahan-bahan lainnya yang tidak ada pada susu segar.

"Pilih produk yang hanya ada satu ingredient. Itu fresh milk, yang tidak ada campuran lain," tuturnya.

Hanya saja, susu segar perlu segera disimpan dalam lemari es dan memiliki masa kedaluwarsa yang memang lebih pendek.

Susu segar yang sudah dibuka kemudian disimpan di luar lemari es akan memicu pertumbuhan bakteri karena sudah terjadi kontak dengan udara.
Hal ini akan menyebabkan perubahan rasa pada susu.

Tapi, ketika kamu sedang berada di luar rumah dan jauh dari jangkauan lemari es, kamu bisa memilih susu UHT.

"Kalau sedang di luar, liburan, tidak ada mesin pendingin, tidak masalah minum susu UHT. Kualitasnya tetap baik dan tidak berbahaya kalau untuk anak," kata Matthew.

*Sumber: kompas.com

Minggu, 02 September 2018

5 Manfaat Cuka Apel untuk Kulit yang Bisa Anda Dapatkan

Senin, 03 September 2018 09:25:22


Sebagian besar orang memanfaatkan cuka apel untuk menjaga kesehatan dan menambah citarasa pada masakan. Di balik dua manfaat utama ini, ternyata cuka apel juga memiliki khasiat lain, lho. Cuka yang berasal dari hasil fermentasi sari apel ini ternyata memiliki manfaat untuk perawatan kecantikan kulit. Bahkan manfaat cuka apel untuk kecantikan juga dianggap sama dengan minyak kelapa. Penasaran dengan berbagai manfaat kecantikan yang bisa Anda dapatkan jika rutin merawat kulit dengan bahan ini? Simak terus artikel ini, ya.

1. Melawan Jerawat

Cuka Apel
Cuka apel merupakan salah satu alternatif menghilangkan jerawat secara alami yang baik. Hal ini disebabkan karena cuka apel memiliki zat anti bakteri and antiseptik yang bermanfaat untuk mencegah jerawat. Kandungan lainnya seperti Alpha Hidroxy Acid dan Acetic Acid turut menjaga pori-pori kulit tetap bebas dari bakteri penyebab jerawat, debu, serta polusi.
Cara penggunaan: campurkan sesendok cuka apel dengan dua cangkir air lalu aplikasikan menggunakan kapas lembut pada wajah yang telah dibersihkan sebelumnya. Biarkan selama 10 menit, lalu bilas dengan air hangat. Lakukan cara ini dua kali sehari atau setiap kali Anda selesai mencuci wajah.

2. Memudarkan Noda pada Wajah

Cuka Apel
Noda pada wajah bisa disebabkan oleh bekas jerawat yang menghitam atau penuaan dini. Selain melawan jerawat, cuka apel juga dapat membantu memudarkan noda pada wajah. Kandungan Alpha Hidroxy Acid dalam cuka apel juga mempercepat regenerasi kulit.
Cara penggunaan: campurkan sesendok cuka apel dengan dua cangkir air lalu aplikasikan menggunakan kapas lembut pada wajah yang telah dibersihkan sebelumnya. Biarkan selama 10 menit, lalu bilas dengan air hangat. Lakukan hal ini beberapa kali dalam seminggu agar mendapatkan manfaat yang maksimal.

3. Toner Wajah

Cuka Apel
Cuka apel telah lama dikenal sebagai toner alami yang baik untuk kulit wajah, khususnya Anda dengan tipe kulit berminyak. Sifat astringent dalam cuka apel membantu menghambat produksi minyak secara berlebih pada kulit sekaligus mengecilkan pori-pori wajah. Penggunaan cuka apel secara teratur dapat mencerahkan kulit wajah. Cuka apel juga membantu menyeimbangkan tingkat pH kulit Anda, mencegah kulit menjadi terlalu berminyak atau terlalu kering.
Cara penggunaan: siapkan botol atau botol spray ukuran sedang, tuang 8 sendok makan cuka apel dan tambahkan air sebanyak 16 sendok makan dengan perbandingan 1:2. Anda dapat menambahkan minyak essensial favorit Anda untuk menambah aroma. Aduk rata hingga tercampur. Basahi kapas dan gunakan toner seperti biasanya. Gunakan toner satu sampai dua kali sehari.

4. Mengeksfoliasi Sekaligus Melembutkan Kulit

Cuka Apel
Anda dapat menambahkan beberapa tetes cuka apel sebagai campuran scrub karena salah satu manfaatnya yang baik untuk eksfoliasi kulit. Kandungan Alpha Hidroxy Acid dalam cuka apel membantu mengelupas permukaan kulit dari tumpukan sel-sel kulit mati dan merangsang pertumbuhan sel-sel kulit baru yang sehat. Kandungan Acetic Acid juga dapat melembutkan kulit.

Cara penggunaan: campurkan 1/2 cangkir oatmeal, 1 sendok brown sugar, 1 sendok teh perasan lemon, dan 1 sendok cuka apel. Aduk hingga rata dan berbentuk seberti pasta. Aplikasikan pada kulit dan biarkan 2 hingga 5 menit. Lalu bilas menggunakan air dingin.

5. Menenangkan Kulit yang Terbakar Sinar Matahari

Cuka Apel
Terlalu lama terpapar sinar matahari dapat menyebabkan kerusakan kulit, termasuk iritasi sekaligus kemerahan. Cuka apel dikenal sejak lama sebagai pengobatan alami untuk kulit terbakar. Sifat astringent pada cuka apel membantu menenangkan rasa sakit dan mempercepat proses penyembuhan. Selain itu, cuka apel juga menenangkan kulit akibat iritasi, gatal dan peradangan.

Cara penggunaan: Campurkan ½ cangkir cuka apel dan empat cangkir air. Gunakan kapas atau kain lembut untuk mengaplikasikan larutan ini ke area kulit yang terbakar untuk menenangkan rasa sakit dan rasa terbakar. Ulangi beberapa kali dalam sehari selama beberapa hari hingga kondisi kulit Anda membaik.

Rabu, 29 Agustus 2018

Waspadai, Kurang Tidur Picu Obesitas

Rabu, 29 Agustus 2018 17:26:54

Waspadai, Kurang Tidur Picu Obesitas

Makan larut malam sejak lama diklaim menjadi pemicu obesitas. Namun, riset terbaru membuktikan, makan malam terlalu larut bukan penyebab utama obesitas.
Gangguan tidurlah yang dapat mengubah metabolisme, dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyimpan lemak. Hasil riset ini menambah bukti ilmiah tentang bagaimana tidur dapat mempengaruhi ritme tubuh.

Di sisi lain, hal itu pun meningkatkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit jantung hingga diabetes. Dokter Jonathan Cedernaes, selaku pemimpin riset yang hasilnya dipublikasikan di jurnal Science Advances, mengatakan, temuan ini telah menunjukkan tidur memiliki fungsi lain.

" Tidur bukan hanya untuk menghemat energi, tetapi memiliki banyak fungsi," kata dia.

Banyak riset membuktikan kerja larut malam dan kurang tidur meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Namun, alasan mengapa ini terjadi sangat sulit untuk dijelaskan.

Kurang tidur nampaknya menganggu hormon yang mengontrol nafsu makan dan rasa kenyang. Selain itu, mereka yang kurang tidur memiliki lebih banyak waktu untuk makan.

Kemungkinan besar mereka juga terlalu lelah berolahraga dan memiliki pengendalian diri yang lebih buruk ketika harus melawan godaan untuk mengonsumsi makanan tak sehat.

Riset sebelumnya yang dipimpin oleh Cedernaes membuktikan, meski hanya sedikit, kala seseorang mengalami kondisi kurang tidur, maka dia akan makan lebih banyak.  Lebih parahnya pula, ada kecenderungan mereka memilih makanan yang memiliki kandungan kalori berlebih. 

Selanjutnya, obesitas dapat meningkatkan risiko sleep apnea, masalah pernapasan yang mengganggu kualitas tidur. Riset baru ini memberikan bukti baru, bahwa kurang tidur memiliki pengaruh langsung pada metabolisme dasar, dan keseimbangan tubuh antara massa lemak dan otot.

Dalam penelitian ini, 15 peserta dalam kondisi sehat mengikuti tes kesehatan dalam dua tahap. Tahap pertama dilakukan setelah tidur malam normal. Sementara itu, tahap kedua dilakukan usai begadang semalaman. Selama tes kesehatan, sampel lemak, jaringan otot dan darah peserta diambil untuk diteliti.

Saat peserta mengalami kurang tidur, jaringan lemak mereka menunjukkan perubahan aktivitas gen terkait dengan sel yang meningkatkan kecenderungan untuk menyerap lipid dan mengalami penyebaran.

Sebaliknya, periset melihat berkurangnya tingkat protein struktural pada otot, yang merupakan bagian penting bagi tubuh untuk mempertahankan dan membangun massa otot.

Riset epidemiologi sebelumnya juga menemukan, mereka yang bekerja saat malam dan yang kurang tidur memiliki massa otot yang lebih rendah. Ini mungkin terjadi karena faktor gaya hidup.

Tapi, riset terbaru menunjukkan ada mekanisme biologis mendasar yang berperan.

"Meski ada kemungkinan dipengaruhi oleh diet dan olahraga, kurang tidur dapat mengurangi protein yang merupakan komponen kunci dari otot," kata Cedernaes.

Riset ini menemukan peningkatan peradangan pada tubuh setelah kurang tidur, yang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
Namun, para peneliti mengatakan perlu dilakukan riset lebih lanjut untuk melihat apakah risiko kurang tidur, dapat berlangsung dalam waktu lama.

Hubungan antara kurang tidur dan gangguan kesehatan semakin menjadi perhatian karena banyaknya pekerja yang menggunakan sistem shift dan perubahan pola tidur di seluruh dunia.

Tahun lalu, analisis dari 28 penelitian menemukan mereka yang bekerja malam secara permanen 29 persen lebih mungkin mengalami obesitas dibandingkan mereka yang bekerja dengan menggunakan sistem pergantian shift.

Sumber: https://lifestyle.kompas.com/read/2018/08/28/160000920/
waspadai-kurang-tidur-picu-obesitas