Selasa, 22 August 2017 12:00:41
Serdadu Belanda melanjutkan gerakan untuk menduduki wilayah
selatan Bojonegoro. Mereka menempati rumah dinas kehutan dekat jembatan
Desa Kedungsari. Sore hari saat sebagian serdadu, mandi di sungai,
Pasukan Gerilya (Pager) Desa menembaki mereka dari ketinggian.
Reporter: Parto Sasmito
blokBojonegoro.com - Pasukan Gerilya (Pager) Desa yang telah
dibentuk usai rapat koordinasi di Gondang yang dipimpin oleh Letkol
Sudirman (Letjen purn) pada tanggal 2 dan 3 Maret 1949, selanjutnya pada
tanggal 27 Maret, anggota-anggota Pager Desa Ngujung dan Pandantoyo
yang sedang menjalankan tugas jaga, memberikan laporan kepada pos TNI di
Temayang mengenai pasukan Belanda yang sedang bergerak menuju selatan,
yakni lereng Gunung Pandan.
Sebelum komando menerima laporan tersebut, terlebih dahulu menerima
kabar dari anggota pasukan kombet yang ditempatkan di Dander bahwa
pasukan Marbrig akan melakukan penyerangan ke komando di selatan
Temayang. Oleh karena itu, maka komando brigade dan batalyon mulai
mengadakan persiapan, pos-pos taktis juga mulai mengatur pertahanan.
[Baca juga:
Kemenangan Gerilya Diawali dari Gondang ]
Dari pihak lawan, yakni Belanda, dengan pasukan dua pleton melakukan
gerakan dengan rute Desa Ngujung, Pandantoyo, Pundung dan menelusuri rel
lori menuju Desa Kedungsari. Setibanya di Desa Papringan, Kecamatan
Sugihwaras, Regu Maun menyambut mereka dengan serangan menggunakan
tembakan senapan mesin 12,7 yang telah disiapkan di ketinggian.
Namun malang, dalam pertempuran tersebut Sersan Maun bersama 3
anggotanya gugur. Sedangkan mereka dirampas dan Belanda melanjutkan
gerakannya ke Kedungsari dan menempati rumah dinas kehutanan dekat
jembatan untuk bermalam.
Tak berselang lama Belanda datang dan istirahat, regu mortir di bawah
Seksi Suprapto menembakan senjata ke arah musuh tersebut. Sekitar pukul
17.00 WIB, Sersan Kasran membawa regu gabungan sudah berada di tempat
yang lebih tinggi. Sementara musuh, sedang membuat dan mengatur
pertahanan di sekeliling rumah yang akan ditempati bermalam.
Menjelang senja, saat serdadu-serdadu sedang mandi di sungai bawah pos
penjagaan, regu Kasran menghujani mereka dengan peluru. Sejalan
kemudian, serdadu lainnya yang sedang bertugas dan siap di belakang
senapan mesin dalam pertahanan membalas tembakan, sehingga
teman-temannya yang masih di sungai bisa menyelamatkan diri.
"Regu Kasra kemudian mundur dan kembali dengan selamat berkumpul dengan
regu lainnya yang sedang melakukan persiapan," Panitia Penyusunan
Sejarah Brigade Ronggolawe, Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan bersama
Brigade Ronggolawe.
Malam harinya, dengan komando dari Mayor Basuki Rakhmat, seksi Jajeri,
seksi Suprapto dan regu Syari'in melancarkan serangan kembali ke
Kedungsari. Tembak-tembakan berlangsung pada suasana gelap malam itu.
Pagi harinya, pada tanggal 28 Maret 1949, pasukan Belanda melanjutkan
gerakan ke selatan di daerah sekitar Waduk pacal untuk mengadakan
pembersihan. Tanpa mereka ketahui, ternyata regu Safii telah menunggu
untuk melakukan penghadangan. Selanjutnya terjadi baku tembak yang
diketahui bahwa seorang serdadu tewas terkena sasaran peluru. Dengan
mebawa mayat tersebut, sebagian serdadu tidak melanjutkan gerakan dan
kembali ke Kedungsari.
Meski kembali dengan membawa mayat, ternyata serdadu juga berhasil
menyergap dan menembak mati 7 orang dalam perjalanan. Di antara korban
tersebut adalah 3 orang rakyat biasa, dan Mantri Kehutanan Kedungsari,
Sastrosudarmo yang diikuti prajurit Kadir dan 2 orang anggota TRIP,
Sukahar dan Suhartono yang sempat meloloskan diri dengan masuk sungai
Pacal. Namun akhirnya mereka tertembak dan gugur di tempat tersebut.
[ito/mu]
Sumber: Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan bersama Brigade Ronggolawe, Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe