Happy Hello Kitty Kaoani

Tidak Diizinkan Klik Kanan Untuk Copy Paste !!!

Senin, 08 Oktober 2018

Berhenti Makan “Junk Food” Bisa Sebabkan Gejala Mirip Putus Obat

Senin, 08 Oktober 2018 19:02:33

Berhenti Makan “Junk Food” Bisa Sebabkan Gejala Mirip Putus Obat

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Appetite mengungkapkan bahwa upaya untuk berhenti makan junk food bisa menyebabkan gejala mirip gejala putus obat.


Gejala ini meliputi perubahan mood yang tiba-tiba, rasa gelisah, sakit kepala, dan kesulitan tidur seperti yang dialami oleh orang-orang yang berusaha menghentikan kencanduan merokok atau narkoba mereka.

Laporan dari 200 partisipan juga mengungkapkan bahwa gejala ini paling terasa pada hari kedua dan hari ketiga sejak mereka berhenti makan junk food. Jangka waktu ini ditemukan paralel dengan orang-orang yang mengalami gejala putus obat pada umumnya.

Temuan ini, ujar penulis utama studi dan kandidat doktoral psikologi di Universitas Michigan Erica Schulte, merupakan bukti pertama bahwa gejala putus obat juga bisa terjadi ketika orang berusaha untuk mengurangi makanan yang diproses.

Schulte pun menambahkan bahwa gejala putus obat merupakan fitur utama dari kecanduan sehingga temuan ini bisa dibilang mendukung hipotesis bahwa makanan yang banyak diproses memang bersifat adiktif.

Melalui studi ini, Schulte berharap agar dia bisa meningkatkan kesadaran bahwa seseorang mungkin bisa mengalami sakit kepala dan menjadi mudah marah ketika mencoba mengurangi junk food. Dengan demikian, para pakar sebaiknya membantu individu-invidiu ini untuk menyusun strategi yang dapat mengurangi gejala mirip putus obat ini.

Ke depannya, dia pun ingin menguji efek gejala putus obat pada orang-orang yang mengurangi konsumsi junk food secara real time, bukan sekadar meminta partisipan untuk mengingat kembali pengalaman mereka.

Dia juga berharap untuk dapat membandingkan intensitas gejala yang dialami oleh partisipan dibanding gejala putus obat pada mereka yang kecanduan narkoba.



Sumber: http://health.kompas.com/read/2018/10/06/180500523/
berhenti-makan-junk-food-bisa-sebabkan-gejala-mirip-putus-obat

Minggu, 07 Oktober 2018

Pengaruh Pola Makan 'Picky Eater' pada Kesehatan Anak

Minggu, 07 Oktober 2018 14:08:08

Pengaruh Pola Makan 'Picky Eater' pada Kesehatan Anak









Anak yang terlalu pemilih dan hanya mau makan dengan makanan yang itu-itu saja disebut juga dengan picky eater. Jika kemauannya selalu dituruti bisa berpengaruh pada kurangnya asupan nutrisi. Picky eater lebih sering terjadi pada anak usia prasekolah atau balita. Di usia tersebut, anak mengalami perkembangan psikis menjadi lebih mandiri, dapat berinteraksi dengan lingkungannya, serta lebih mengekspresikan emosinya. 

Sifat perkembangan yang terbentuk ini dapat memengaruhi pola makan anak. Proses pembelajaran makan yang baik sangat penting bagi anak di fase usia prasekolah agar ia tumbuh sehat dan cerdas. Angka kejadian masalah kesulitan makan di beberapa negara cukup tinggi.
Sebuah penelitian oleh The Gateshead Millenium Baby Study pada tahun 2006 di Inggris menyebutkan, 20 persen orangtua mengatakan anaknya mengalami masalah makan, dengan prevalensi tertinggi anak hanya mau makan makanan tertentu. Survei lain di Amerika Serikat tahun 2004 menyebutkan 19-50 persen orangtua mengeluhkan anaknya sangat pemilih dalam makan
sehingga terjadi defisiensi zat gizi tertentu.

Penelitian yang dilakukan Sudibyo Supardi peneliti di National Institute of Health Research and Development terhadap anak prasekolah di Jakarta  tahun 2015 menunjukkan hasil prevalensi kesulitan makan sebesar 33,6 persen. Adapun 44,5 persen di antaranya menderita malnutrisi ringan sampai sedang dan 79,2 persen dari subjek penelitian telah mengalami kesulitan makan lebih dari 3 bulan.

Kelompok usia terbanyak mengalami kesulitan makan adalah usia 1 sampai 5 tahun. Sebanyak 43 persen anak yang mengalami kesulitan makan mengalami gizi buruk. Kreatif Menurut Prof. Dr. Rini Sekartini, SpA, picky eater merupakan gangguan perilaku makan pada anak yang berhubungan dengan perkembangan psikologis tumbuh kembangnya dan ditandai dengan keengganan anak mencoba jenis makanan baru. Biasanya kondisi picky eater disebabkan kurangnya variasi makanan anak.
"Anak tidak boleh memilih makanan yang disukai, suasana di rumah tidak menyenangkan, kurang perhatian orangtua, atau contoh yang kurang baik dari orangtua," katanya.
Orangtua harus bersikap tenang dan kreatif saat menghadapi balita picky eater. Misalnya saja lebih variatif dalam menyajikan makanan. Jika anak hanya mau mengonsumsi telur saja, misalnya, maka sajikan juga makanan favoritnya itu dengan variasi makanan lain, misalnya sayur bening bayam. Di kesempatan lain, kombinasikan dengan makanan lainnya.

Orangtua juga perlu memberi contoh pola makan yang sehat dan bervariasi sambil makan bersama. Melibatkan anak saat memasak, mulai dari proses belanja sampai proses pembuatan, juga bisa mendorong ketertarikan anak untuk mencicipi makanan pilihannya sendiri. Yang terpenting, orangtua perlu sabar dan tidak memaksa anak untuk makan sehingga anak tidak trauma dan malah semakin jadi pemilih.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pengaruh Pola Makan "Picky Eater" pada Kesehatan Anak", https://lifestyle.kompas.com/read/2018/10/06/081840520/pengaruh-pola-makan-picky-eater-pada-kesehatan-anak. 

Jumat, 05 Oktober 2018

Pengaruh Pola Makan "Picky Eater" pada Kesehatan Anak

Sabtu, 06 Oktober 2018 13:54:10

Pengaruh Pola Makan
 
Anak yang terlalu pemilih dan hanya mau makan dengan makanan yang itu-itu saja disebut juga dengan picky eater. Jika kemauannya selalu dituruti bisa berpengaruh pada kurangnya asupan nutrisi.

Picky eater lebih sering terjadi pada anak usia prasekolah atau balita.

Di usia tersebut, anak mengalami perkembangan psikis menjadi lebih mandiri, dapat berinteraksi dengan lingkungannya, serta lebih mengekspresikan emosinya. Sifat perkembangan yang terbentuk ini dapat memengaruhi pola makan anak.

Proses pembelajaran makan yang baik sangat penting bagi anak di fase usia prasekolah agar ia tumbuh sehat dan cerdas.

Angka kejadian masalah kesulitan makan di beberapa negara cukup tinggi. Sebuah penelitian oleh The Gateshead Millenium Baby Study pada tahun 2006 di Inggris menyebutkan, 20 persen orangtua mengatakan anaknya mengalami masalah makan, dengan prevalensi tertinggi anak hanya mau makan makanan tertentu.

Survei lain di Amerika Serikat tahun 2004 menyebutkan 19-50 persen orangtua mengeluhkan anaknya sangat pemilih dalam makan sehingga terjadi defisiensi zat gizi tertentu.
Penelitian yang dilakukan Sudibyo Supardi peneliti di National Institute of Health Research and Development terhadap anak prasekolah di Jakarta  tahun 2015 menunjukkan hasil prevalensi kesulitan makan sebesar 33,6 persen.

Adapun 44,5 persen di antaranya menderita malnutrisi ringan sampai sedang dan 79,2 persen dari subjek penelitian telah mengalami kesulitan makan lebih dari 3 bulan.

Kelompok usia terbanyak mengalami kesulitan makan adalah usia 1 sampai 5 tahun. Sebanyak 43 persen anak yang mengalami kesulitan makan mengalami gizi buruk.

Kreatif

Menurut Prof. Dr. Rini Sekartini, SpA, picky eater merupakan gangguan perilaku makan pada anak yang berhubungan dengan perkembangan psikologis tumbuh kembangnya dan ditandai dengan keengganan anak mencoba jenis makanan baru.

Biasanya kondisi picky eater disebabkan kurangnya variasi makanan anak.

"Anak tidak boleh memilih makanan yang disukai, suasana di rumah tidak menyenangkan, kurang perhatian orangtua, atau contoh yang kurang baik dari orangtua," katanya.

Orangtua harus bersikap tenang dan kreatif saat menghadapi balita picky eater. Misalnya saja lebih variatif dalam menyajikan makanan.

Jika anak hanya mau mengonsumsi telur saja, misalnya, maka sajikan juga makanan favoritnya itu dengan variasi makanan lain, misalnya sayur bening bayam. Di kesempatan lain, kombinasikan dengan makanan lainnya.

Orangtua juga perlu memberi contoh pola makan yang sehat dan bervariasi sambil makan bersama.

Melibatkan anak saat memasak, mulai dari proses belanja sampai proses pembuatan, juga bisa mendorong ketertarikan anak untuk mencicipi makanan pilihannya sendiri.

Yang terpenting, orangtua perlu sabar dan tidak memaksa anak untuk makan sehingga anak tidak trauma dan malah semakin jadi pemilih.

*Sumber: kompas.com

Pahami 5 Hal Ini, Problem dengan Ibu Mertua Pasti Beres

Jum'at, 05 Oktober 2018 18:43:22

Pahami 5 Hal Ini, Problem dengan Ibu Mertua Pasti Beres 

Kamu mempunyai masalah dengan ibu mertua? Tenang saja, kamu tidak sendirian.

Sebab, bahkan sekalipun dalam hubungan yang paling harmonis antara menantu dan ibu mertua, pasti pernah masalah dan friksi di antara mereka.

Pembahasan tentang hubungan antara mertua dan menantu ini menjadi lebih menarik, menyusul terkuaknya kebohongan dari aktivis Ratna Sarumpaet, yang sebelumnya mengaku dianiaya.

Kabar itu lalu menjadi sorotan media, baik media arus utama maupun media sosial. Serangkaian tanda pagar (tagar) di lini masa warganet pun bermunculan.

Salah satu yang paling menggelitik adalah munculnya tagar #2019gantimertua.

Tagar ini merujuk pada keprihatinan warganet kepada Rio Dewanto, aktor yang tak lain adalah menantu Ratna Sarumpaet.

Tentu, di benak warganet muncul beragam imajinasi tentang bagaimana selama ini hubungan Rio dengan mertuanya yang kini menjadi sorotan publik itu. 

Terlepas dari persepsi itu, persoalan dalam hubungan menantu dan mertua merupakan hal klasik yang terjadi di belahan dunia mana pun.

Namun satu kata kunci yang harus dipahami benar oleh semua menantu adalah, saat friksi dengan mertua muncul, ingatlah selalu bahwa intensi mertua sebenarnya selalu baik.
Di sisi lain, mertua ingin menjalin hubungan yang lebih kuat dengan kamu sebagai menantunya.

Jika pemahaman ini sudah diresapi, maka kita tinggal memperhatikan lima hal besar, yang bisa membantu memahami persoalan dan memperbaiki relasi dengan mertua.

Hubungan menantu dan mertua yang tidak akur lebih sering dialami oleh menantu perempuan dan mertua perempuan.
Laman Imom.com pun melansir artikel yang menjelaskan tentang kondisi ini, dan cara melihatnya dari perspektif yang lebih baik.

1. Sekali ibu, tetap ibu

So, apakah kamu pernah berpikir untuk berhenti mencintai anak yang kamu lahirkan? Tentu, tidak akan pernah, bukan?
Nah, rasa itu pula yang persis ada di dalam benak mertuamu.
Sekalipun suamimu sudah tumbuh besar menjadi pria dewasa yang mandiri, dia tetap adalah anak dari mertuamu.
Jadi, saat mertuamu bertanya -misalnya, kapan suami mu terakhir ke dokter? Atau, ingin tahu apakah anaknya tidur dengan lelap, jangan terlaly diambil hati.

Itu hanya curahan hati dan perasaan dari seorang ibu tentang anaknya. Persis seperti yang kamu lakukan terhadap anakmu.

Cobalah pahami, mertua melontarkan pertanyaan semacam itu karena dia peduli, bukan karena dia cerewet.

Menyadari dan memahami posisi semacam ini akan sangat membantu kamu untuk menyelesaikan persoalan dan friksi dengan ibu mertuamu. 

2. Amat sulit untuk tidak memberi saran

Percaya atau tidak? Ibu mertuamu sudah merasa memiliki semua informasi dan pengetahuan tentang bagaimana mengasuh anak, merawat rumah, dan berbagai hal tentang keluarga.

Jadi, ketika dia melihat kamu melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang biasa dia lakukan, atau ketika dia mendapati hal yang mencerminkan kamu belum bisa tentang suatu hal, dia tak akan diam.

Sulit untuk membuatnya tenang, dan menghentikan ocehannya.

Ya, tentu saja, caramu melakukan sesuatu bisa saja berbeda dengan cara yang biasa dilakukan mertua. Itu tak bisa dijadikan patokan bahwa kamu belum terampil.

Tapi, apa sih sulitnya untuk membuka telinga dan mendengarkan saran dari dia?

Sekalipun saran yang diberikan mungkin tak berguna, tapi di sisi lain kamu bisa melatih kesabaran dan kelembutan hati untuk mendengar, dan tidak berbantahan. Bukan begitu?

3. Mertuamu ingin jadi bagian dari hidupmu

Mungkin sulit untuk bisa dipahami tentang perasaan apa yang berkecamuk ketika seorang perempuan menjadi nenek.
Perasaan ini sama persis dengan kondisi saat seorang wanita tak bisa membayangkan dirinya menjadi seorang ibu, hingga dia sungguh mengalaminya.

Namun demikian, bayangkan sajalah, berapa besar cinta yang diberikan ibu mertuamu kepada cucu-cucunya. Juga cintanya kepada suamimu dan -tak lupa, kepada kamu.

Dari sana kita bisa menyadari betapa sosok perempuan tersebut ternyata adalah bagian nyata dari hidupmu, hidup keluargamu.

Jadi, akan sangat bijak jika kita selalu merangkulnya dan menjadikan bagian dari banyak hal dalam keluarga, selagi kita bisa.

Cobalah berinteraksi lebih sering dengan dia. Jika dia hidup berjauhan dengan keluargamu, kontaklah lewat email atau pesan selular misalnya.

Jangan lupa, selalu undang dia dalam banyak acara besar yang dilewati anak-anakmu.

4. Kesepian

Cobalah untuk berhenti sejenak dari kesibukanmu, dan bayangkan kamu berada dalam posisi seorang diri. Pasti sunyi, kan?

Kini, ketika kedamaian datang menghampirimu lewat keberadaan anak-anak, sadarilah, suatu saat nanti kamu pun akan merindukan keramaian tersebut lagi.

Ibu mertuamu pun begitu. Dia merindukan interaksi penuh kasih dari banyak orang di sekitarnya. Jadi, tak ada salahnya kamu membantu dia melewati kondisi itu.

5. Butuh pertolongan besar

Sebagian besar ibu mertua memiliki intensi untuk menolong yang amat besar. Namun, sayangnya, banyak dari mereka tak selalu merasa disambut baik -khususnya oleh menantu perempuannya.

Jadi, peranmu sebagai menantu amatlah besar untuk menyelesaikan masalah ini.

Mulailah dari hal-hal sederhana. Bertanya tentang bagaimana dulu dia membesarkan suamimu, misalnya.

Atau, melibatkan dia saat membawa anak-anak. Bisa pula, memberi kesempatan pada dia mengajarkan cucu-cucunya membuat kue sederhana.

Meskipun kamu tak bertatapan langsung dengan dia, dia sudah hidup lebih lama dari kamu. Jadi, dia tentu punya pengalaman hidup yang lebih banyak pula.

Yakini saja, pada akhirnya dia bisa membantu kamu untuk menjadi ibu yang luar biasa.

Mulai sekarang, coba tempatkan ibu mertuamu dalam perspektif yang berbeda.

Bahkan, ketika kamu tak memiliki masalah dengan dia sekalipun, teleponlah, katakan terimakasih karena sudah menjadi ibu mertua yang hebat.

*Sumber: kompas.com

Kamis, 04 Oktober 2018

Perhatikan, Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Bertemu Mantan...

Kamis, 04 Oktober 2018 19:03:12

Perhatikan, Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Bertemu Mantan... 

Berpisah dari orang tersayang memang bukan hal yang mudah. Apalagi, jika kita terpaksa masih harus berkomunikasi atau melihatnya dalam rutinitas sehari-hari.

Semua hal ini tentu membuat kita lebih susah bangkit dan move on dari rasa sakit akibat patah hati.

Melihat wajah dan harus berinteraksi dengan seorang yang ingin kita lupakan, tentu sangat menyakitkan, bukan?

Berpisah dari seseorang yang harus kita temui setiap hari, entah karena pekerjaan, jarak rumah yang dekat, atau karena adanya seorang anak memang sangat sulit.

"Terus-menerus melihat atau berinteraksi dengan seseorang yang ingin kita lupakan tentu akan menyulitkan kita untuk bangkit dari patah hati."
Demikian kata seorang pakar hubungan bernama Susan Winter, seperti dikutip laman Elite Daily.

Menurut dia, terjebak dalam kondisi di mana kita harus berinteraksi atau bertemu dengan mantan kekasih secara intensif membutuhkan mental yang luar biasa.
Juga diperlukan "sistem pendukung" yang hebat, dan keyakinan tinggi untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik.

Tak peduli bagaimana hubungan asmara berakhir, Winter menekankan pentingnya menjaga jarak antara kita dan mantan kekasih.

"Jika memungkinkan, sebaiknya hindari melihat mantan sampai kita mendapatkan stabilitas emosi," papar Winter.

Tentu ini hal yang sulit dilakukan, terutama jika mantan kekasih adalah rekan kerja atau tetangga kita.

Winter lantas menyarankan kita untuk benar-benar mempersiapkan diri sebelum terjebak dalam kondisi ini.

Ia juga menyarankan kita untuk tak melakukan hal-hal yang memancing interaksi dan percakapan.

Kita harus berlatih di hadapan cermin untuk mempersiapkan reaksi saat berada di sekitar mantan.
"Tentu kedengarannya konyol, tetapi cara ini sangat membantu," kata dia.

Kita akan terbiasa mengucapkan nama mereka dengan keras, dan dapat melatih topik percakapan ringan dan mudah, yang tidak akan menyinggung hal-hal seputar perpisahan.

Selain itu, Winter juga menyarankan kita agar mencari tahu apa yang kita perlukan untuk merasa kuat dan aman.

Jika itu berarti kita membutuhkan pakaian atau gaya rambut baru, maka lakukanlah.

Bahkan, jika memberi tahu mantan kekasih bahwa diri kita telah move on dapat memberi kekuatan, maka beri tahu dia.

Lakukan apa yang harus kita lakukan untuk percaya diri saat melihat mantan kekasih.

"Kita harus mengantisipasi hal tak terduga, dan melatih mental kita untuk menghadapi segala kondisi," ucap Winter.

Sekali lagi, berlatih di cermin bukanlah ide terburuk, dan mungkin ketika tiba saatnya untuk melihat mantan, kita akan siap, dan tak perlu merasa gelisah.

Jadi, praktikkan apa yang akan kita katakan dan persiapkan untuk hal terburuk.

Ini akan membantu menenangkan saraf sebelum menghadapi hal yang tak terelakkan, dan membantu kita tetap tenang ketika melihat mantan kekasih.

*Sumber: kompas.com

Selasa, 02 Oktober 2018

Yuk, Ajak 'Si Digital Native' Main Bebas di Alam Terbuka

Rabu, 03 Oktober 2018 10:51:00

Yuk, Ajak 'Si Digital Native' Main Bebas di Alam Terbuka 

Di era digital ini, bukan hanya orangtua yang piawai menggunakan layar komputer atau ponsel, anak-anak pun sudah akrab dengan fungsi dari perangkat teknologi. Generasi yang lahir sejak perkembangan teknologi ini disebut juga dengan digital native.

Walau kita tidak mungkin mengisolasi anak dari kemajuan teknologi, namun sebagai orangtua kita wajib memberikan pengawasan dan pembatasan.

Menurut dr. Buti A.Azhali, Sp.A, kemajuan teknologi telah memengaruhi anak, mulai dari cara bermain, gaya belajar, hingga interaksi sosial.

Jika penggunaan gawai pada anak tidak dibatasi, bisa berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mentalnya.

"Gangguan fisik pada anak pun dapat terjadi. Misalnya pola tidur berubah, gangguan penglihatan, obesitas, bahkan berpnegaruh pada tumbuh kembangnya," katanya dalam seminar "Membesarkan Anak Zaman Now: Gadget vs Engklek" yang diadakan oleh Podomoro Park, di Bandung (30/9).

Pada bayi, penggunaan gawai berlebihan bisa menyebabkan keterlambatan bicara (speech delay).

"Pemakaian gawai dapat menghilangkan puluhan bahkan ratusan kosakata baru yang dapat anak pelajari," kata Buti.

Ia menambahkan, berbeda ketika anak diajak bicara oleh orangtua.

"Anak yang sering diajak bicara oleh orangtua memiliki kemampuan mengolah kata yang lebih baik dan skill verbal juga tinggi," katanya.

Main di luar

Anak-anak seharusnya diajak untuk banyak bermain dan mengeksplorasi lingkungan sekitar.

Sayangnya, anak-anak dan remaja saat ini lebih suka mengunduh aneka film, lagu, dan permaianan dari gawai, ketimbang bermain di luar.

Permainan yang mengajak tubuh bergerak akan mengasah kekuatan fisik, keseimbangan, dan kontrol tubuh.

Menurut ahli psikologi anak Seto Mulyadi, bermain dengan teman sebaya di sekitar juga akan melatih kemampuan anak bersosialiasi sehingga anak akan mudah menyesuaikan diri saat dewasa.

"Berinteraksi dengan teman sebaya juga dapat melatih interpersonal skill," katanya dalam acara yang sama.

Namun, kendala lahan di luar ruangan yang dapat digunakan untuk bermain sering menjadi hambatan tersendiri.

Berbeda dengan kondisi lingkungan dahulu di era 80-90an, sat di sekitar rumah masih banyak area terbuka untuk anak bisa bermain dengan teman-temannya.

Untuk itu saat ini perumahan yang memiliki area terbuka luas menjadi idaman para orangtua muda.

Menurut Assitant GM Marketing Podomoro Park, Tedi Guswana, huian dengan konsep ruang terbuka luas dan juga aman kini menarik antusiasme pasar.

Saat ini Podomoro Park Bandung menghadirkan ruang terbuka hijau dengan komposisi mencapai 50 persen dari luas kawasan.

"Kami ingin mewujudkan hunian yang nyaman, aman, dan lingkungan yang sehat, terutama bagi anak-anak," katanya dalam acara tersebut.

Pada kesempatan yang sama, diluncurkan juga buku cerita anak berjudul "Moro Beruang Kecil dan Rumah Barunya", untuk mendukung budaya membaca melalui buku berbentuk fisik.

*Sumber: kompas.com

Senin, 01 Oktober 2018

Kenali Perbedaan Nyeri Otot dan Cedera Usai Olahraga

Senin, 01 October 2018 18:44:38

Kenali Perbedaan Nyeri Otot dan Cedera Usai Olahraga 

Nyeri otot merupakan bagian alami dari setiap olahraga rutin. Tandanya, otot telah bekerja dan Anda mendapatkan “hasil” dari sesi olahraga.

Walau begitu, nyeri otot dan cedera olahraga kadang tak tampak perbedaanya. Padahal, cedera jauh lebih serius dan mungkin memerlukan perhatian dan perawatan dari seorang dokter. Sehingga, mengetahui perbedaan antara keduanya adalah penting untuk mempertahankan gaya hidup sehat dan aktif untuk jangka panjang.

Menurut Mike Reinold, kepala ahli terapi fisik untuk Boston Red Sox, "Nyeri otot pasca olahraga dapat terjadi di bagian tubuh mana pun. Bisa dimulai dari saat olahraga hingga beberapa hari setelahnya, tergantung pada intensitas latihan, dengan puncak nyeri sekitar 36 jam pasca olahraga.”

Namun, setelah beberapa hari, rasa sakit akibat nyeri otot akan berkurang secara dramatis. "Jika nyeri Anda memuncak satu atau dua hari setelah olahraga, namun secara bertahap mulai menurun di hari berikutnya, otot dalam keadaan sehat.”

Untuk membantu meringankan rasa sakit dan mengurangi efek samping dari latihan berat, tetaplah bergerak aktif dan melakukan beberapa peregangan ringan selama 24 jam setelah sesi olahraga. Gerakan ini akan membantu untuk mengedarkan darah dan nutrisi ke jaringan yang rusak.

Namun, ketika rasa sakit terus berlanjut untuk jangka waktu yang lebih lama dan menyebabkan sangat sulit atau sakit bergerak, Anda mungkin telah mengalami cedera otot.

Dr. Reinold menambahkan, "Jika nyeri yang berlangsung lebih lama dari 5 hari, atau memiliki dampak signifikan pada fungsi anggota tubuh, itu mungkin cedera. Anda perlu cepat memeriksakan diri ke profesional medis.”

Penanganan cedera dini dapat menjadi kunci pemulihan cepat. Ketimbang menunggu rasa sakit reda dalam waktu lebih dari seminggu, segera kunjungi dokter atau ahli terapi fisik untuk memastikan bahwa Anda tidak mengalami sesuatu yang lebih serius.

Sumber: http://health.kompas.com/read/2016/08/16/203700923/
Kenali.Perbedaan.Nyeri.Otot.dan.Cedera.Usai.Olahraga